RSS

Jatuh Cinta Diam-Diam, pernah gak sih???

Hei ho,

pernah gak sih kamu ngalamin JATUH CINTA diam-diam (ssssttt) dan kamu gak berani mengungkapkannya?

kmrn ada teman yang cerita banyak gitu. ya, gitu deh, biasa cewek… aku juga pernah *blushing*

ada rasa enak dan gak enaknya…

berikut ceritanya…

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya tidak berani menyatakan dengan terus terang apa yang menjadi perasaan saya. Tetapi hanya menyampaikan isyarat-isyarat yang menurut saya cerdas dan berharap orang yang dijatuh cintai terkesan, padahal tahupun tidak apalagi menoleh dan kemudian jatuh cinta.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya tahu dengan detail semua informasi tentang dia, orang yang dia dekati, teman-temannya, hobbynya, kapan ia berulang tahun. Dari mana saya tahu semua itu? Seperti biasa, dari temannya teman temannya teman dan dari temannya teman dari temannya. paling tidak, saya tahu dari FBnya

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya hanya memenuhi diary saya dengan catatan perasaan hati yang tak tersampaikan. Menggambar hati dalam screen server computer, menggabungkan inisial namanya dan nama saya dan menjadikannya secara diam-diam dalam sampul depan buku-buku. Saya juga sering menuliskan namanya banyak-banyak dan mencoretnya lagi karena saya merasa tidak pantas dengannya.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya bertingkah seperti layaknya seorang penguntit. Secara diam-diam mengikuti perkembangannya, lihat wall FBnya setiap hari, ganti apa statusnya, siapa yang komentar di statusnya dan dia sedang komentar apa di status temen-temennya. Meng add semua temen-temennya dan berharap tahu semua informasi dia sedang apa, lagi dimana, sekarang pacarnya siapa dan hanya melihat dari kejauhan tanpa berani berterus terang.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya sering melihat secara diam-diam foto-fotonya di facebook dan mencuri salah satunya, mencrop dan mengedit fotonya kemudian saya gabung dengan foto saya sehingga kita tampak seperti pasangan serasi. Diam-diam foto itu kemudian menjadi wallpaper di hape saya, yang bisa saya pandangi setiap saat dan sebelum tidur tanpa dia tahu bahwa saya diam-diam sering banget merindukannya. saya juga kadang menggunting bagian wajahnya dan menaruhnya di dompet dibelakang foto saya

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya pernah menelepon dan langsung menutup teleponnya kembali. Saya hanya ingin mendengar semerdu apa suaranya. Cukuplah puaslah sudah. Saya seringkali ingin mengirim SMS duluan, tapi rasa takut itu diam-diam menyergap. Takut saya dibilang cewe agresif, takut bersaing dengan cewe lain yang mungkin juga akan meng SMS dia.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Pada akhirnya saya selalu melamun tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali kenapa saya tadi tak melakukan apapun. Diam-diam cemburu sendiri, marah, uring-uringan sendiri tanpa kejelasan melihatnya becanda dengan perempuan lain.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Pada akhirnya saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah pengharapan ini, pengharapan yang dari dulu, yang tumbuh mulai kecil, hingga makin lama semakin menjauh. Dan pada akhirnya menerima bahwa dia tak memperhatikan saya. Ah, susahnya saya sebagai perempuan yang sedang jatuh cinta. Harus diam-diam memendam perasaan tanpa berani mengungkapkan.

Dan sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya hanya bisa : JATUH CINTA SENDIRIAN

WAKE UP, GIRLSS….

semua itu terserah padamu. kamu mau MENGUNGKAPKANNYA atau MEMBIARKANNYA MEMBUSUK dan berlalu begitu saja… 馃榾

terserah…

mendingan di ungkapin aja 馃檪

copas dari note seorang temen 馃榾

*tapi kalo saya mah mending dipendem aja*

Iklan
 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi

 

Galau?! Proses menuju kedewasaan…

Galau?!

Pernah Galau? Atau bahkan kamu sering mengalaminya?

seperti inikah wajah anda saat galau? :p

Sebenernya apa sih galau itu? Kayaknya pas jaman saya SMA, istilah ini belum banyak dipake deh. Kenapa sekarang koq jadi membombastis kayak gini ya. Sepengetahuan saya sih, galau itu adalah dimana seorang individu bingung ingin melakukan hal apa ketika ia dihadapkan pada suatu masalah, suka murung, sensi *jadi berhati-hatilah dengan orang galau :p*, kadang apa yang diinginkan tidak sinkron dengan apa yang ia lakukan (ga nyambung, contohnya aja ketika saya disuruh ibu saya ngambil gunting, saya tau saya mau ambil gunting, tapi saya ga nyadar ternyata yang saya ambil malah dompet *mata duitan*) dan suka makan *mungkin hal ini hanya terjadi pada saya ya. Don鈥檛 try this on you!*

Kalo menurut kamus Bahasa Indonesia, begini nih…

Galau adalah : ga路lau a, ber路ga路lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke路ga路lau路an n sifat (keadaan hal) galau.

Apa sih yang menjadi penyebab Galau?

Berdasarkan pengalaman saya lagi nih, banyak hal sih, mulai dari kesibukan kuliah yang tak kunjung selesai, sms ke pacar yang tak kunjung dibalas, telpon ke pacar yang tak kunjung diangkat, menunggu akhir pekan yang tak kunjung datang *saat liburan* dan menunggu pacar yang tak kunjung ngapel. Hahaha鈥 (pacar bisa diganti sama gebetan, kalo yang baca lagi jomblo :p)

Galau itu sebenernya wajar ga sih?

Nah ini nih pertanyaan sulit. Saya akan jawab ini tapi sesuai dengan kapasitas saya sebagai mahasiswa psikologi ya. Wajar kalo sesuai umur. Kenapa gitu? Ya, karena istilah galau biasanya memang pas digunakan untuk para remaja atau maksimal dewasa awal. Pasti akan ngakak kalo tiba-tiba kalian mengalami hal kayak gini,

Saya : 鈥淢am, koq ngelamun. Kenapa?

Umik : 鈥淕apapa dek, lagi galau.鈥

Saya : #^@@$#$%!^

Yah itu yang terjadi dengan ibu saya -__-鈥 bayangkan saja, ibu saya memang tidak lagi muda, sudah separuh abad, tapi sepertinya virus galau sudah merambah ke ibu saya, mungkin pada ibu-ibu yang lain juga gitu :p

Tapi yang pasti, ketika saya ditanya, “lapo galau? (red. kenapa galau?)” Alibi saya mengatakan Galau adalah salah satu proses menuju kedewasaan. Itu menurut saya, kalo kalian? 馃榾

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2011 in Uncategorized

 

Love?! Ini nih teorinya,,

Ini bukan notes galau. Meski memang sebenernya saya sering dibuat galau oleh yang namanya Cinta. Tapi bukan itu yang bakal saya bahas saat ini.

Anda pernah merasakan cinta?

Dengan siapa? ( Karena cinta itu melibatkan dua orang, kalo mencintai dirinya sendiri itu namanya apatis!)

Kayak apa sih rasanya cinta?

Sedikit ilmiah nih. Menurut Izard (dalam Strongman, 1998) cinta itu dapat mendatangkan segala jenis emosi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Jadi jangan salahin kalo orang lagi diliputi rasa cinta bisa jadi manis banget, bisa jadi kejam banget. Hehehe :p

Nah, buat anak2 psikologi pasti sudah tau siapa orang yang terkenal dengan teori Cinta-nya? Yah, sebut saja Sternberg. Kerennya, Teori Cinta Sternberg鈥

Dalam teorinya, Sternberg mengemukakan bahwa cinta itu sebenarnya memiliki tiga dimensi, yaitu hasrat (passion), keintiman (intimacy) dan komitmen/keputusan (commitment/decision). Apa bedanya? Nih, akan saya jelasin satu persatu.

1.Hasrat

Dimensi ini menekankan pada intensnya perasaan serta keterbangkitan yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang mengalami ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu, melakukan kontak mata secara intens saat bertemu, mengalami perasaan yang sangat indah seperti melambung kea wan, mengagumi dan terpesona dengan pasangan, detak jantung meningkat dan segala hal yang mampu membuat seseorang bahagia

2. Keintiman

Dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bertemu. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional jika kedua pihak saling mengerti, terbuka dan saling mendukung, serta bisa berbicara apapun tanpa merasa takut ditolak. Mereka mampu untuk saling memaafkan dan menerima, khususnya ketika mereka tidak sependapat atau berbuat kesalahan.

3. Komitmen/Keputusan

Pada dimensi ini, seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Komitemn dapat bermakna mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu untuk menjaga suatu hubungan tetap langgeng, melindungi hubungan tersebut dari bahaya, serta memperbaiki bila hubungan dalam keadaan kritis.

(sumber : buku Psikologi Sosial entah siapa pengarangnya, karena saya hanya mem-fotocopy beberapa bab :p )

Nah, jadi dimensi cinta apakah yang selama ini kalian punyai untuk orang tua? Untuk teman? Atau untuk kekasih Anda?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2011 in coretan, Psikologi

 

Andai saja saat itu tidak hujan…

Saat ini aku benci dengan hujan. Hujan yang deras. Yang tak bisa membuatku berkutik. Mengingatnya, sama saja seperti membasahi hatiku yang kini telah kering oleh cinta.

Namaku Rainy. Artinya hujan, bukan? Tapi semenjak dua tahun yang lalu aku telah membenci kata hujan, berhujan atau apalah itu, termasuk namaku sendiri. Ketika teman-temanku memanggil namaku, 鈥淗ai, Rainy. Si Hujan鈥 seketika tanduk seakan tumbuh di kepalaku. Kenapa namaku seperti ini sih. Ah, sudahlah aku tidak akan mempermasalahkan namaku. Tapi, aku mempermasalahkan kenapa Tuhan menurunkan hujan tepat disaat dua tahun lalu ketika aku menunggu kedatangan seseorang.

Dia kupanggil mas kucel.聽 Kudapatkan nama itu dari teman-temannya yang juga temanku. Kami berbeda kampus, tapi kampus kami jaraknya cukup dekat. Meski begitu, kami masih belum bertemu secara langsung.

聽鈥淕a kucel sih, cuman agak kurang menjaga penampilan aja, 鈥溌 desisku dalam hati membela mas kucel, eh Dhio nama sebenarnya. Desisanku itu ternyata berpengaruh dengan raut mukaku yang agak manyun sedikit ketika temanku berbicara tentang dia, sang pujaan hatiku. 鈥淚h, beneran kamu suka sama mas kucel, eh siapa itu Dhio. Baru juga kenal di Facebook 3 bulan yang lalu,鈥 ujar temanku yang keheranan melihat sikapku yang merasa jatuh cinta saat komen pertama dia. Aku menyebutnya ini aneh, tapi siapa juga yang mau menduga arah datangnya cinta itu darimana. Namun yang pasti, aku mulai menyukainya!

Intens berhubungan hanya lewat dunia maya, sudah cukup bagi kami. Hingga suatu saat, 鈥淢inta nomer Hapemu donk rain 鈥 鈥渆h mas kucel minta nomer HP ku lhoooo!鈥 Sontak kegirangan aku membaca message darinya. Bagai ketiban durian runtuh, tapi tak kunjung durian itu aku ambil. Hloh? Iya, kini sikap gengsiku yang mulai maju, 鈥渘tar aja dibalesnya, biarin dia penasaran!鈥 pikirku saat itu.

Meski aku belum membalas message darinya, tapi dia masih cukup konsisten mengikuti perkembangan facebook-ku. Setiap kali aku update status, dan setiap kali itu pula dia memberikan komentar! Bisa dibilang, statusku hambar jika tak ada komentar darinya. Hingga hampir seminggu aku tidak membuka akun facebook-ku itu karena aku sedang menghadapi ujian. Mungkin dia juga, karena yang aku tahu jadwal ujian kampus kami selalu beriringan. Tak satupun notification dari dirinya. Aku mengeceknya satu persatu, membuka mata lebih lebar, takut ada baris-baris notification yang terlewatkan. Nihil! Iseng-iseng aku membuka chat ku di Facebook yang selama ini aku offline-kan. Yippi! Dia Online juga ternyata, pertanda jodoh? Huh, pertanyaan bodoh! Ragu dan malu ingin aku memulai chat dengannya. Setiap kali menulis, 鈥淗alo mas J 鈥 Seketika itu pula aku hapus sebelum aku meng-enter颅-nya. Rasa maluku masih lebih besar daripada perasaanku ternyata.

Lama menunggu. Dia tak kunjung menyapaku. Apa dia sudah lupa kalau sudah punya teman sepertiku? Ah, masa bodoh! Kusapa saja duluan, dengan terlebih dahulu membaca doa, aku mulai tuliskan 鈥渉alo siang mas..鈥 Semenit, Lima Menit, 15 Menit pun tidak ada respon darinya. Kesal! Kutuliskan lagi 鈥淎pa kabar? J 鈥 Kusertakan emote senyum berharap dia membalas. Sepuluh menit menunggu dan menunggu lagi. Kuputuskan log-off sajalah. Setelah click log-off, dipojok 聽kiri bawah terlihat ada satu chat masuk. 鈥淜abar baik koq. Kamu gimana? Oh ya, message-ku belum kamu bales tuh!鈥 Ketika akan membalasnya. Sial!! Keburu akunku sudah log-off. Segera aku login kembali. Tapi ternyata sinyal wifi tidak terlalu bersahabat saat itu. Lemot! Dan yes, sudah masuk di home! Tapi鈥 Si Mas Kucel sudah raib entah kemana. Nasib buruk! Oh ya, aku melupakan sesuatu. Aku klik tab Message. Kucari message darinya. Kubalas : 鈥淢aaf lama balasnya. Aku ga ngerti kalo ada message dari kamu mas. Ini nomerku 0867 84894 xx鈥 Send!

Semenjak itu, aku menantikan ada nomer asing masuk ke ponselku, entah itu SMS atau sekedar miscall. Argggh! Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu memang kurang kerjaan, tapi menunggu nomer ponselmu hadir di ponselku adalah pekerjaan yang sangat aku tunggu鈥

Sehari. Tiga hari. Hopeless. Tepat hari ke-5, nomer asing mampir di ponselku. Miscalled. Kucoba miscall balik, berhenti sampai disitu. Padahal aku sudah mengharapkan itu nomer ponsel Mas kucel. Malamnya,鈥 hai Rainy 馃榾 ini nomerku, Dhio! 鈥 Ya ampun, lima hari aku menunggu untunglah tidak sia-sia! Kubalas sms itu, 鈥淜iriman Pesan Gagal鈥. Walaaah, pulsa habis ternyata!-__-鈥

Esoknya, ada kuliah pagi dan jam segitu yang aku tau masih belum ada kios pulsa yang buka. Segera kudatangi temanku yang lain memaksanya mengisikanku pulsa, 鈥淯angnya besok!鈥 seperti biasanya.

鈥淲ah, halo juga mas. Hehe, kirain ga bakal SMS aku,鈥 bunyi SMSku yang aku kirim pertama kali untuknya. Sejak saat itu, kami mulai saling berkomunikasi lebih private lagi Keranjinganku update status mulai aku tinggalkan. Hampir kira2 dua bulan, hubungan kami bertahan seperti itu. Benih-benih suka di hatiku sudah berubah menjadi rasa cinta. Entah di hatinya. SMS kami pun tidak nyerempet kearah sana, masih dalam batas antar teman.

鈥淓h, kamu abis ultah gitu ga traktir aku.鈥

鈥淵auda, kesini deh. Ntar aku traktir mas.鈥

鈥淪iplah gampang!!鈥

Omongan ini terus menerus seperti ini terjadi tanpa ada perlakuan lebih lanjut. Janji-janji akan bertemu dengan dirinya semakin sering, tapi sesering itu juga mendekati hari-H dia selalu ada saja punya acara lain. 鈥淩ainy, hari ini ga ada acara kan? Aku uda bener2 free koq. Traktir skrg yah!鈥 鈥淥ke, aku tunggu dikampus jam 4 sore ini.鈥

Jarum jam masih menunjukkan angka 10. Enam jam lagi hari yang bersejarah buatku! Bertemu dengan pujaan hati yang selama ini hanya bisa disaksikan di 鈥渄unia lain鈥. Dan tiba-tiba, jam 1 siang hujan turun dengan derasnya. Begitu pula di kampus mas Kucel. 鈥淵a Tuhan, moga ntar jam 4 hujannya udah reda鈥 doaku dalam hati.

Semakin lama tetesan air hujan itu bukannya semakin rintik, namun bulir-bulirnya malah semakin deras dan menghujam cepat ke tanah. Kukirim sms, 鈥渏adi mas? Disini hujannya makin deres.鈥 Balasan : 鈥淚ya, disini juga. Gmn donk?鈥 Agak bingung juga memberi saran apa, ingin aku memaksanya untuk datang kesini dan melihatnya secara langsung, tapi disisi lain, kasihan dia jika harus menerobos hujan demi aku yang masih belum apa-apanya. Dan akhirnya, 鈥淵audah deh, kapan2 lagi aja. Kita atur waktu lagi.鈥 Seketika dia menjawab, 鈥渙kelah!鈥

Hari-hari berikutnya masih tetap hujan. Selama sebulan, hati ini dilanda gundah gulana. 鈥淧lis, ga usah hujan satu hari aja donk!鈥 harapku pada Tuhan. Tapi mungkin Tuhan masih mem-pending permintaanku. Dan semakin hari pula intensitas SMS kami semakin berkurang. Tidak seramah dulu dan cenderung datar. Mungkin dia sibuk. Aku pun juga ikut 鈥渢erbuai鈥 dengan tugasku yang semakin banyak.

Lalu, 鈥渆h pinjem laptop donk. Udah lama ga buka facebook.鈥 鈥淣ih,鈥 seketika aku menyambut sodoran laptop dari tangan temanku. 鈥淧elan-pelan donk,鈥

Tulis Email. Tulis Password. Enter. Tunggu beberapa menit, langsung aku tuliskan namanya di kotak Search, 鈥淒hio Pramono鈥. Ya Ampun foto profilnya berdua dengan seorang wanita. 鈥淎h, mungkin aja adiknya,鈥漛atinku. Profil facebooknya terbuka dan iseng kuliat info akunnya, lalu status hubungannya 鈥淏erpacaran dengan 鈥 鈥 Belum sempat kulihat dengan siapa dia menjalin kasih, aku buru-buru beranjak pergi dari sana, berlari ke kamar mandi, bersedih disana. Astagaaa! Aku mengirimkan SMS padanya, 鈥渃iee, uda jadian nih J 鈥 emote senyum yang sangat aku paksakan. 鈥淗ehe, iya!鈥 balasnya. Sekejap airmataku meleleh, begitu pula hatiku yang juga merasakan gerimis kesedihan. Ah, andai saat itu tidak hujan! 馃槮

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2011 in Cerita, imajinasi

 

99 Detik yang Berharga

Hari itu, seperti biasa harus melewati jalan itu untuk bisa sampai ke kampus tercinta. Bukan satu-satunya akses jalan buat ke kampus sih, tapi lebih pada efisiensi waktu. Dari jalan Indragiri lurus hingga ketemu Gelora Pancasila, berjalan agak memutar di depan Resto Kebun Kelapa. Setelah lampu merah lurus saja, hingga melewati tempat Karaoke Nav di sisi kiri. Hingga sampai di perempatan lampu merah lagi. Kalo ke kiri menuju arah Urip Sumoharjo dan Tunjungan, jika lurus saja menuju jalan Polisi Istimewa dan Sriwijaya. Dan di perempatan lampu merah inilah, cerita akan saya angkat!

 

Salah satu traffic light yang saya benci ya di daerah itu, selain traffic light yang ada di perempatan Ngagel, dekat Bilka swalayan. Kenapa? Karena, perubahan traffic lamp dari merah menjadi hijau begitu lamanya. Sekitar 120 detik (2 menit). Jadi bayangkan saja jika waktu sudah mepet untuk masuk kuliah dan saya harus menunggu lampu merah menjadi hijau, pasti sudah ketar-ketir rasanya.

 

Hari itu, saya masuk pagi. Kuliah pagi dimulai sekitar 07.30. Padahal 07.20 saya masih berada di perempatan lampu merah tersebut bersaing dengan aneka kendaraan yang terkumpul disana. 鈥淎lamat telat iki,鈥 pikir saya dalam hati. Saat itu, saya berada di sisi kanan (padahal biasanya di sisi kiri) nyempil di sebelah mobil Alphard Hitam yang mengkilat, untungnya Motor Honda Supra X keluaran 2005 milik saya tidak kalah mengkilatnya, meski masih agak berdebu di sana sini. Hehehe :p

 

Tidak jauh dari pandangan saya, terlihat seorang loper koran sedang duduk di pinggir trotoar. 鈥淲ah, ini tukang loper Koran males banget sih jualin korannya, cuman duduk-duduk doank,鈥 kata saya sinis. Sayup-sayup terdengar bapak-bapak pengendara motor memanggil si tukang loper Koran. 鈥淲oi, Koran!鈥 Tak dinyana, sang loper Koran bangkit dan darah saya berdesir. 鈥淎staghfirullah!鈥 Begitu hina-dinanya saya, ber-suudzon dengannya, mengatakan dia males padahal untuk bangkit saja dia susah. Ia menghampiri pembeli korannya dan dengan tertatih, ia kembali ke tempatnya semula.

 

Lampu hijau hanya muncul 30 detik. Saya tidak sempat mengejar ketertinggalan lampu hijau. Akhirnya, saya kembali menunggu lampu. 99 detik lagi. Pandangan saya dengan loper Koran itu semakin dekat. Dengan cepat, saya buka dompet mengeluarkan uang 5ribuan. Menghampiri sang loper Koran, kasihan kalo dia yang menghampiri saya. Biarkan saya yang ngalah. 鈥淧ak, jawa pos satu!鈥 pinta saya. 鈥淚ni mbak鈥 seraya menyerahkan sebundel Koran dengan penuh senyum. Subhanallah, begitu ikhlasnya bapak ini.

鈥淏erapa Pak?鈥

鈥淭iga Ribu Lima Ratus鈥

 

Dan saya pun menyerahkan uang lima ribuan yang telah saya siapkan, sebelum si bapak loper Koran mengambil uang kembalian saya ngomong, 鈥淪udah Pak! Ambil saja kembaliannya!鈥 perintah saya. Si Bapak bersikeras tetap ingin memberikan uang kembalian seraya berkata,

鈥淛angan lah mbak. Saya cuman butuh 3500 aja. Saya juga ga minta-minta koq mbak. Meski dengan keadaan saya kayak gini, selama saya bisa kerja dan kerjaannya halal akan saya lakukan.鈥

鈥淟ho Pak. Saya ikhlas koq.鈥

鈥淪aya yang ga ikhlas mbak鈥

Seketika hati ini luluh. Air mata tidak terasa meleleh juga. Pagi itu, saya basah dengan air mata. Perkataan bapak itu seakan membuat diri saya semakin sadar. Dengan kondisi normal seperti ini, saya masih saja merepotkan orang lain, sedangkan bapak itu dengan kondisi kaki yang terserang polio sehingga ia tidak bisa berjalan sempurna. Untuk melangkah saja terseok-seok, tapi ia mampu bertahan.

Lampu Hijau. Saya ingat kalo ada kuliah pagi.

鈥淢akasih ya Pak!鈥

鈥淚ya Mbak. Hati-hati!鈥

Dan kata terakhir dari bapak loper Koran itu semakin membuat trenyuh. Saya memang belum tau namanya. Saya baru kenal beberapa detik yang lalu. Tapi beliau sedemikian baiknya dengan saya. Sungguh, 99 detik yang berharga!

 

Mari kita renungi, ada dua pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa ini :

Saya semakin menyadari untuk harus bisa melakukan segala halnya sendiri. Tidak perlu merepotkan orang lain. Selagi saya bisa. Selagi saya mampu. Lakukan sendiri!

Kembalikan yang bukan merupakan hak kita. Jujur, saya sedikit korupsi jika disuruh ibu saya, 鈥淒ek, belikan nasi goreng.鈥 Harganya 7ribu rupiah. Ibu membawakan uang 10ribu rupiah. Uang kembalian 3ribu rupiah. Alhasil, jarang sekali uang kembalian itu saya antarkan bersama dengan nasi gorengnya. Yang paling sering saya lakukan adalah menaruhnya di dompet saya dan bilang itu sebagai uang lelah. Miris sekali kalo punya anak seperti saya! -__-鈥

 

NB : sebenernya mau ngambil foto bapak loper korannya sekalian, sayang tdk ada kesempatan 馃槮

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Cerita, coretan, Pengalaman, Psikologi

 

Quotes Today : All about LOVE!

Jodoh itu di tangan kita. Kita yang memilih, Tuhan yang menyetujui.

– Mario Teguh –

Carilah orang yang mencintaimu apa adanya dulu. Baru kamu bisa mencintainya kemudian. Agar kamu tidak sakit hati lagi, Nak!

– My Lovely Mom –

Ya Allah jika memang dia jodoh saya, maka dekatkanlah. Namun jikalau dia bukan jodoh saya, tetap dekatkanlah!

– Myself –

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Uncategorized

 

Berubahlah jadi lebih baik, meski susah!

Satu hal yang pasti akan abadi di dunia ini, yaitu Perubahan. Perubahan semacam apapun itu yang penting memastikan bahwa diri kita hasilnya akan berbeda dengan diri sebelumnya. Nah, bagaimana jika ada orang lain yang datang kepadamu dengan niat yang tulus, memintamu untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik?

Banyak orang beranggapan jika berubah demi orang lain itu sama saja seperti memaksakan kehendak orang lain terhadap diri kita. Orang lain terlalu banyak menuntut pada diri kita. Terlalu picik jika Anda berpikiran seperti itu! Cobalah berpikir pula sebaliknya, Itu adalah sebuah bentuk kepedulian padamu. Anda manusia yang sudah dewasa kan? Pasti tau mana yang sekedar menuntut dan mana yang peduli dengan anda..

Maksimalkan saran perubahan itu dengan menginternalisasikan dahulu kepada diri kita. Kita tidak serta merta menerima saran perubahan. Pertimbangkan dan bandingkan lebih banyak manfaatnya atau mudharat-nya. Berubah jadi lebih 鈥渂aik鈥 menurut orang lain itu susah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semudah seperti seorang Peter Parker berubah menjadi Spiderman. Hahaha!! :p

Semuanya butuh proses. Proses pendewasaan diri, serta proses introspeksi diri. Apa yang patut kita ubah dari diri kita, dan apa-apa juga yang patut kita pertahankan. Karena tidak semua kritik dan saran dari orang lain kita olah sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang diinginkan orang lain. SALAH BESAR! Itu sama saja seperti perumpamaan kerbau yang dicocok hidungnya. Anda hidup menjadi seorang manusia kan? #pertanyaanbodoh. Jadi, hidup itu antara Anda dengan orang lain sekitar Anda. Manusia adalah makhluk sosial, perlu berkomunikasi, perlu menjalin hubungan interpersonal yang baik dan pasti Anda tidak mampu hidup sendiri, karena Anda bukan DEWA!

Allah sangat menghendaki umatnya untuk bisa berubah, dengan niatannya sendiri. Karena diri manusia yang lebih mengetahui adalah diri mereka sendiri. Allah berfirman dalam Q.S : Ar-Ra鈥檇uu : 11 鈥 Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu umat, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka鈥.

Nah, sekarang tergantung kita tetap menjadi seseorang yang menutup telinga dengan aneka saran yang dilimpahkan orang lain terhadap kita? Atau membuka telinga selebar-lebarnya dengan menanggapi berbagai saran yang ada. Bicarakan pada diri Anda. Karena Anda sendiri yang lebih tahu, Anda ingin berubah menjadi lebih baik yang seperti apa, menurut orang lain, menurut diri Anda sendiri atau kombinasi antara keduanya?

Kalau bukan diri Anda sendiri yang bisa mengerti Anda, siapa lagi? Let鈥檚 talk to ourself! To change鈥

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Cerita, coretan, Pengalaman