RSS

Arsip Kategori: Psikologi

my passion :D

Cerita PKL #1

Yah, akhirnya saya PKL di Rumah Sakit Jiwa Rajiman Wediodiningrat atau yang lebih dikenal dengan RSJ Lawang. Mendengar namanya saja sudah agak merinding. Kenapa? Ya karena saya teringat bahan becandaan saat mengenyam bangku sekolah. “Heh, ndang nang Lawang kunu!” (hei, cepetan ke lawang sana!). saat itu saya ga ngerti lawang itu apa dan dimana. Alhasil saya bertanya pada Ibu. Ibu menjawab lawang itu ada di Malang. Dan pikir saya saat itu, jika lawang adalah salah satu tempat wisata, lagipula yang saya ngerti selama ini kalo Malang ya banyak tempat wisatanya. Seiring dengan berjalannya waktu, baru tau kalo disana ada rumah sakit jiwanya. Rumah sakit jiwa kedua yang saya tahu setelah Menur *saya juga sudah ke Menur dan awesome banget* #abaikan

Balik lagi cerita mengenai PKL. Beda dengan PKL-PKL sebelumnya, PKL mata kuliah Psikologi Abnormal dengan tujuan RSJ Lawang ini diadakan pada saat weekend, sabtu kemarin,  17 Desember 2011. Jadi bisa dipastikan jika Ibu bertanya, “tumben berangkat pagi dek?” “Mau ke Lawang,” jawab saya. “Oh liburan yak?” ibu bertanya lagi dan saya pun menjawab “Iya Mam. Ke RSJ Lawang hehehe” Bukannya salah tingkah, ibu malah berpesan, “Jangan lupa banyakin kenalan disana!” dan respon saya, “Emooooh mam!!”

Dan kembali lagi ke cerita awal. Berangkat jam setengah 7 tet dari gerbang kampus. Hati ini ngerasa seneng banget, apa karena udah lama ga liburan ya? Atau karena ga sabar ketemu “kawan lama”? Hahaha, yang pasti perjalanan saya cukup mengasyikkan, meski didalam bis saya masi berkutat dengan PPDGJ (Pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa) dan berdiskusi dengan Nisa dan Lay mengenai Schizophrenia, Depresi, Siklotimik dan apapun itu. Hingga akhirnya, jam 10 tet nyampe juga disana.

Dan saya baru nyadar kalo RSJ Lawang itu berada di gang tepat seberang Bakpao Telo lho. Jadi mungkin setelah teman-teman berbelanja jajanan yang berbahan dasar telo (ubi) bisa langsung mampir ke tempat tersebut. Soalnya disana, pemandangannya indah banget, asri, sejuk. Pasti kalo yang ga tau menyangka tempat itu adalah “hunian” yang pas dan indah. Padahal,, Wkwkwk!

Pemandangan RSJ Lawang

Setelah turun dari bis. Alhasil, kami langsung diarak ke aula yang cukup besar. Beredar selentingan kabar mengejutkan, “Eh, ntar mahasiswanya dapat pasien satu-satu!” Wow, amazing!  Saya mah wajar-wajar saja. Yah bisa diliat dengan luas RSJ Lawang yang sebegitu gedenya, dan banyaknya bangunan disana, bisa dipastikan jika pasien RSJ Lawang akan lebih banyak dibandingkan mahasiswa PKL yang saat itu datang disana.

Tapi begitu masuk aula, bayangan-bayangan buruk mulai menghantui gara-gara kabar mengejutkan itu. Baru sejenak duduk di kursi saja, saya langsung mengajak salah satu teman saya untuk ke toilet. Ga lama setelah itu, balik ke toilet lagi -__-‘ *Inilah saya, kalo ngerasa tegang bisa bolak-balik pergi ke toilet*

Di aula mendengar sambutan dari salah satu kepala divisi Rumah Sakit yang disertai beberapa penjelasan mengenai rumah sakit ini. RSJ Lawang ini memang Rumah Sakit Jiwa tertua karena dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Iya sih, diliat dari bangunannya aja masih agak kuno-kuno gitu. Setelah itu, kami semua dibagi menjadi 4 kelompok besar. Saya masuk ke kelompok dua dengan tujuan bangsal Flamboyan yang isinya para pasien wanita dewasa dengan didampingi seorang psikolog yang bekerja disana.

Yah, pasien disini jauh lebih adaptif. Kenapa? Karena saya punya pengalaman sebelumnya di RSJ Menur, pasiennya lebih agresif, banyak yang nyolek-nyolek bahkan minta kenalan. *So, lebih asik di Menur kan :p*

Nah, waktunya tiba. Satu kelompok besar itu tadi dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jadinya, saya sekelompok sama Nisa, Lay, Amira dan Eris. Satu kelompok kecil itu tadi akan “diberi” satu pasien secara cuma-Cuma *loh*. Pasien kami namanya Mbak Yn, dia baru “datang” sekitar sebulan lalu. Ia merupakan “murid” pindahan dari Liponsos Keputih Surabaya. Pasien Yn ini cukup ramah lho, hampir semua mahasiswa yang berada di situ ia salami. Jabat tangannya pun erat sambil menyunggingkan senyum. Pasien berumur 29 tahun *ngakunya sih 3 tahun*. Menurut perawat yang bertugas disana, Yn menderita RM (Retardasi Mental) dengan GMO (Gangguan Mental Organik). Namun kami tidak mengetahui secara spesifik GMO-nya itu apa dan RM di level apa. Kami cukup melakukan observasi dan wawancara terhadap Yn *meskipun bisa dipastikan banyak ga nyambungnya* serta pada perawatnya. Sayangnya, kami kesulitan mendapatkan data asesmen lengkap yang telah dijalani Yn karena pihak RSJ yang kelihatannya keberatan untuk memberikannya.

Kurang lebih 45 menit, kami “bercengkrama” dengan kawan baru dan melengkapi data. Akhirnya kami diarak lagi ke aula.  Padahal jujur saya sangat ingin berjalan-jalan di lokasi yang luasnya ±5 hektare itu. Tapi ya ini semua karena keterbatasan waktu, kapan-kapan saya akan berkunjung lagi kesana, entah kapan 🙂

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi

 

Jatuh Cinta Diam-Diam, pernah gak sih???

Hei ho,

pernah gak sih kamu ngalamin JATUH CINTA diam-diam (ssssttt) dan kamu gak berani mengungkapkannya?

kmrn ada teman yang cerita banyak gitu. ya, gitu deh, biasa cewek… aku juga pernah *blushing*

ada rasa enak dan gak enaknya…

berikut ceritanya…

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya tidak berani menyatakan dengan terus terang apa yang menjadi perasaan saya. Tetapi hanya menyampaikan isyarat-isyarat yang menurut saya cerdas dan berharap orang yang dijatuh cintai terkesan, padahal tahupun tidak apalagi menoleh dan kemudian jatuh cinta.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya tahu dengan detail semua informasi tentang dia, orang yang dia dekati, teman-temannya, hobbynya, kapan ia berulang tahun. Dari mana saya tahu semua itu? Seperti biasa, dari temannya teman temannya teman dan dari temannya teman dari temannya. paling tidak, saya tahu dari FBnya

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya hanya memenuhi diary saya dengan catatan perasaan hati yang tak tersampaikan. Menggambar hati dalam screen server computer, menggabungkan inisial namanya dan nama saya dan menjadikannya secara diam-diam dalam sampul depan buku-buku. Saya juga sering menuliskan namanya banyak-banyak dan mencoretnya lagi karena saya merasa tidak pantas dengannya.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya bertingkah seperti layaknya seorang penguntit. Secara diam-diam mengikuti perkembangannya, lihat wall FBnya setiap hari, ganti apa statusnya, siapa yang komentar di statusnya dan dia sedang komentar apa di status temen-temennya. Meng add semua temen-temennya dan berharap tahu semua informasi dia sedang apa, lagi dimana, sekarang pacarnya siapa dan hanya melihat dari kejauhan tanpa berani berterus terang.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya sering melihat secara diam-diam foto-fotonya di facebook dan mencuri salah satunya, mencrop dan mengedit fotonya kemudian saya gabung dengan foto saya sehingga kita tampak seperti pasangan serasi. Diam-diam foto itu kemudian menjadi wallpaper di hape saya, yang bisa saya pandangi setiap saat dan sebelum tidur tanpa dia tahu bahwa saya diam-diam sering banget merindukannya. saya juga kadang menggunting bagian wajahnya dan menaruhnya di dompet dibelakang foto saya

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya pernah menelepon dan langsung menutup teleponnya kembali. Saya hanya ingin mendengar semerdu apa suaranya. Cukuplah puaslah sudah. Saya seringkali ingin mengirim SMS duluan, tapi rasa takut itu diam-diam menyergap. Takut saya dibilang cewe agresif, takut bersaing dengan cewe lain yang mungkin juga akan meng SMS dia.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Pada akhirnya saya selalu melamun tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali kenapa saya tadi tak melakukan apapun. Diam-diam cemburu sendiri, marah, uring-uringan sendiri tanpa kejelasan melihatnya becanda dengan perempuan lain.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Pada akhirnya saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah pengharapan ini, pengharapan yang dari dulu, yang tumbuh mulai kecil, hingga makin lama semakin menjauh. Dan pada akhirnya menerima bahwa dia tak memperhatikan saya. Ah, susahnya saya sebagai perempuan yang sedang jatuh cinta. Harus diam-diam memendam perasaan tanpa berani mengungkapkan.

Dan sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya hanya bisa : JATUH CINTA SENDIRIAN

WAKE UP, GIRLSS….

semua itu terserah padamu. kamu mau MENGUNGKAPKANNYA atau MEMBIARKANNYA MEMBUSUK dan berlalu begitu saja… 😀

terserah…

mendingan di ungkapin aja 🙂

copas dari note seorang temen 😀

*tapi kalo saya mah mending dipendem aja*

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi

 

Love?! Ini nih teorinya,,

Ini bukan notes galau. Meski memang sebenernya saya sering dibuat galau oleh yang namanya Cinta. Tapi bukan itu yang bakal saya bahas saat ini.

Anda pernah merasakan cinta?

Dengan siapa? ( Karena cinta itu melibatkan dua orang, kalo mencintai dirinya sendiri itu namanya apatis!)

Kayak apa sih rasanya cinta?

Sedikit ilmiah nih. Menurut Izard (dalam Strongman, 1998) cinta itu dapat mendatangkan segala jenis emosi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Jadi jangan salahin kalo orang lagi diliputi rasa cinta bisa jadi manis banget, bisa jadi kejam banget. Hehehe :p

Nah, buat anak2 psikologi pasti sudah tau siapa orang yang terkenal dengan teori Cinta-nya? Yah, sebut saja Sternberg. Kerennya, Teori Cinta Sternberg…

Dalam teorinya, Sternberg mengemukakan bahwa cinta itu sebenarnya memiliki tiga dimensi, yaitu hasrat (passion), keintiman (intimacy) dan komitmen/keputusan (commitment/decision). Apa bedanya? Nih, akan saya jelasin satu persatu.

1.Hasrat

Dimensi ini menekankan pada intensnya perasaan serta keterbangkitan yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang mengalami ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu, melakukan kontak mata secara intens saat bertemu, mengalami perasaan yang sangat indah seperti melambung kea wan, mengagumi dan terpesona dengan pasangan, detak jantung meningkat dan segala hal yang mampu membuat seseorang bahagia

2. Keintiman

Dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bertemu. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional jika kedua pihak saling mengerti, terbuka dan saling mendukung, serta bisa berbicara apapun tanpa merasa takut ditolak. Mereka mampu untuk saling memaafkan dan menerima, khususnya ketika mereka tidak sependapat atau berbuat kesalahan.

3. Komitmen/Keputusan

Pada dimensi ini, seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Komitemn dapat bermakna mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu untuk menjaga suatu hubungan tetap langgeng, melindungi hubungan tersebut dari bahaya, serta memperbaiki bila hubungan dalam keadaan kritis.

(sumber : buku Psikologi Sosial entah siapa pengarangnya, karena saya hanya mem-fotocopy beberapa bab :p )

Nah, jadi dimensi cinta apakah yang selama ini kalian punyai untuk orang tua? Untuk teman? Atau untuk kekasih Anda?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2011 in coretan, Psikologi

 

99 Detik yang Berharga

Hari itu, seperti biasa harus melewati jalan itu untuk bisa sampai ke kampus tercinta. Bukan satu-satunya akses jalan buat ke kampus sih, tapi lebih pada efisiensi waktu. Dari jalan Indragiri lurus hingga ketemu Gelora Pancasila, berjalan agak memutar di depan Resto Kebun Kelapa. Setelah lampu merah lurus saja, hingga melewati tempat Karaoke Nav di sisi kiri. Hingga sampai di perempatan lampu merah lagi. Kalo ke kiri menuju arah Urip Sumoharjo dan Tunjungan, jika lurus saja menuju jalan Polisi Istimewa dan Sriwijaya. Dan di perempatan lampu merah inilah, cerita akan saya angkat!

 

Salah satu traffic light yang saya benci ya di daerah itu, selain traffic light yang ada di perempatan Ngagel, dekat Bilka swalayan. Kenapa? Karena, perubahan traffic lamp dari merah menjadi hijau begitu lamanya. Sekitar 120 detik (2 menit). Jadi bayangkan saja jika waktu sudah mepet untuk masuk kuliah dan saya harus menunggu lampu merah menjadi hijau, pasti sudah ketar-ketir rasanya.

 

Hari itu, saya masuk pagi. Kuliah pagi dimulai sekitar 07.30. Padahal 07.20 saya masih berada di perempatan lampu merah tersebut bersaing dengan aneka kendaraan yang terkumpul disana. “Alamat telat iki,” pikir saya dalam hati. Saat itu, saya berada di sisi kanan (padahal biasanya di sisi kiri) nyempil di sebelah mobil Alphard Hitam yang mengkilat, untungnya Motor Honda Supra X keluaran 2005 milik saya tidak kalah mengkilatnya, meski masih agak berdebu di sana sini. Hehehe :p

 

Tidak jauh dari pandangan saya, terlihat seorang loper koran sedang duduk di pinggir trotoar. “Wah, ini tukang loper Koran males banget sih jualin korannya, cuman duduk-duduk doank,” kata saya sinis. Sayup-sayup terdengar bapak-bapak pengendara motor memanggil si tukang loper Koran. “Woi, Koran!” Tak dinyana, sang loper Koran bangkit dan darah saya berdesir. “Astaghfirullah!” Begitu hina-dinanya saya, ber-suudzon dengannya, mengatakan dia males padahal untuk bangkit saja dia susah. Ia menghampiri pembeli korannya dan dengan tertatih, ia kembali ke tempatnya semula.

 

Lampu hijau hanya muncul 30 detik. Saya tidak sempat mengejar ketertinggalan lampu hijau. Akhirnya, saya kembali menunggu lampu. 99 detik lagi. Pandangan saya dengan loper Koran itu semakin dekat. Dengan cepat, saya buka dompet mengeluarkan uang 5ribuan. Menghampiri sang loper Koran, kasihan kalo dia yang menghampiri saya. Biarkan saya yang ngalah. “Pak, jawa pos satu!” pinta saya. “Ini mbak” seraya menyerahkan sebundel Koran dengan penuh senyum. Subhanallah, begitu ikhlasnya bapak ini.

“Berapa Pak?”

“Tiga Ribu Lima Ratus”

 

Dan saya pun menyerahkan uang lima ribuan yang telah saya siapkan, sebelum si bapak loper Koran mengambil uang kembalian saya ngomong, “Sudah Pak! Ambil saja kembaliannya!” perintah saya. Si Bapak bersikeras tetap ingin memberikan uang kembalian seraya berkata,

“Jangan lah mbak. Saya cuman butuh 3500 aja. Saya juga ga minta-minta koq mbak. Meski dengan keadaan saya kayak gini, selama saya bisa kerja dan kerjaannya halal akan saya lakukan.”

“Lho Pak. Saya ikhlas koq.”

“Saya yang ga ikhlas mbak”

Seketika hati ini luluh. Air mata tidak terasa meleleh juga. Pagi itu, saya basah dengan air mata. Perkataan bapak itu seakan membuat diri saya semakin sadar. Dengan kondisi normal seperti ini, saya masih saja merepotkan orang lain, sedangkan bapak itu dengan kondisi kaki yang terserang polio sehingga ia tidak bisa berjalan sempurna. Untuk melangkah saja terseok-seok, tapi ia mampu bertahan.

Lampu Hijau. Saya ingat kalo ada kuliah pagi.

“Makasih ya Pak!”

“Iya Mbak. Hati-hati!”

Dan kata terakhir dari bapak loper Koran itu semakin membuat trenyuh. Saya memang belum tau namanya. Saya baru kenal beberapa detik yang lalu. Tapi beliau sedemikian baiknya dengan saya. Sungguh, 99 detik yang berharga!

 

Mari kita renungi, ada dua pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa ini :

Saya semakin menyadari untuk harus bisa melakukan segala halnya sendiri. Tidak perlu merepotkan orang lain. Selagi saya bisa. Selagi saya mampu. Lakukan sendiri!

Kembalikan yang bukan merupakan hak kita. Jujur, saya sedikit korupsi jika disuruh ibu saya, “Dek, belikan nasi goreng.” Harganya 7ribu rupiah. Ibu membawakan uang 10ribu rupiah. Uang kembalian 3ribu rupiah. Alhasil, jarang sekali uang kembalian itu saya antarkan bersama dengan nasi gorengnya. Yang paling sering saya lakukan adalah menaruhnya di dompet saya dan bilang itu sebagai uang lelah. Miris sekali kalo punya anak seperti saya! -__-‘

 

NB : sebenernya mau ngambil foto bapak loper korannya sekalian, sayang tdk ada kesempatan 😦

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Cerita, coretan, Pengalaman, Psikologi