RSS

Arsip Kategori: Pengalaman

pengalaman berharga dalam hidup

Mengapa Doamu tidak dikabulkan? (1)

Teringat obrolan bersama seorang teman beberapa minggu yang lalu. Awalnya, kami hanya mengobrol santai sambil menikmati makan malam kami di sebuah restoran cepat saji. Saling bertukar kabar tentang dunia perkuliahan kami hingga pengalaman kami sehabis menjomblo. Yeaaa! Entah kenapa bahasan tentang mantan juga menjadi teman makan malam kami. Seakan-akan membahas masalah sakit hati itu tiada batasnya bagi kami. Hingga akhirnya, obrolanku terhenti pada suatu pertanyaan, “Aku sudah sering istikharah lho buat meminta petunjuk dari Allah tentang jodohku. Dari dulu. Tapi kenapa koq jawabannya ga keliatan juga ya?!”

Sedikit kekecewaan tergambar jelas dari pertanyaan itu. Teman makanku yang hanya berbeda setaun diatasku mencoba memberikan pemahaman dengan sebuah perumpamaan.

“Jadi ya, kamu itu ibaratnya seperti sebuah handphone. Terus permohonanmu itu ibaratnya SMS, kamu kirim SMS ke Allah, tapi sampe sekarang kamu belum mendapat balesannya. Bisa aja kan SMS mu itu pending, providernya mbambet gegara kamu masih pake handphone abal-abal kayak HP China. Coba kalo kamu pake hape yang lebih bagus, yang ga rusak, yg ga bikin SMS pending, pasti sekarang jawaban SMS mu sudah kamu terima dengan baik. Tau maksudnya?”

Betapa jawaban itu cukup seperti mendorong ke jurang yang gak berair. Jleb! Yah, seperti itulah jawaban yang menyadarkanku selama ini. Apakah kita sudah memperbaiki diri kita sebelum memohon pada-Nya?

Janganlah menuntut Rabb-mu karena permohonanmu belum dikabulkan oleh-Nya. AKan tetapi tuntutlah dirimu sendiri yang mungkin belum memenuhi syarat dikabulkannya sebuah permohonan. (Al Hikam; Syaikh Ibnu ‘Athaillah)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 November 2013 in Cerita, Pengalaman

 

Tag: , ,

Kenangan 2012 (1)

Bulan Januari

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu semarak saat menyambut tahun baru. Karena 9 hari setelah petasan dan kembang api muncul di langit, angka baru muncul dalam kehidupan saya. Yah, semarak tahun baru di “tahun” saya yang baru. Saat itu, saya memiliki sahabat yang sangat baik yang pernah saya miliki, dan memberikan saya kado istimewa. Dan pastinya kecupan mesra di kening dari Abah dan umik saat subuh.

Pertengahan bulannya, tepat tanggal 15, saya menghadiri kosma (kongres mahasiswa) di fakultas saya untuk dikukuhkan sebagai anggota BEM. Ini adalah titik balik saya, dimana terakhir kali saya terjun di organisasi pada saat SMP. Di BEM Fakultas Psikologi, ini saya mendapati teman-teman yang baik dan hangat, terutama divisi Pengabdian Masyarakat, dengan manajernya Fauzi, yang nantinya ternyata menjadi partner saya di kantor magang. Nisa, sahabat terbaik saya semenjak duduk di bangku kuliah. Johan, Apid, Budi alias Bima, Lisa dan Cesna, yang baru saya kenal.

Akhir bulannya, Alhamdulillah saya menemukan (insya Allah) penjaga hati saya, namanya mas Danu. Meski yang saya tau, dia lebih familiar dengan nama Anggie di mata keluarganya dan teman-temannya yang saya kenal. Dan yang membuat saya kaget lagi, dia memiliki nama beken saat kuliah, Ujang. Jadilah saya berpacaran dengan mas Anggie alias mas Danu alias mas Ujang (namanya banyak, jadi inget nama narapidana yg juga pakai alias2 gitu pas ditulis di koran :p)

Yaaaak! Pertama dalam hidup saya. Saya akan menjalani LDR alias Long Distance Relationship. Padahal, sebelumnya saya selalu mengolok-olok sahabat saya yang sedang LDR. Dan ternyata, apesnya saya mengalaminya. Sebuah apes yang menghasilkan pengalaman. Yeaaaah!

Bulan Februari 

Di bulan ini, saya menikmati masa-masa semester menjelang akhir saya. Ribet KRS, dan KHS yang tidak menghasilkan senyuman. Yah, IPK saya turun pada waktu itu. Nangis? Jelas! Saya kembali menikmati hasil yang tidak memuaskan, sebuah angka 2,98. Bikin enek! Padahal kurang 0,02 saya bisa mengambil 22 sks. Nasib…

Tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk mampu mencapai semuanya. Saat itu, saya menjalani sebuah proses seleksi dari rekrutmen yang diadakan oleh salah satu unit terapan di fakultas saya. Namanya Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP). Saya rasa disitulah nanti tempat saya akan berkembang, sesuai dengan peminatan saya, yakni Psikologi Pendidikan. Setiap tahapnya saya lalui dengan penuh percaya diri dan keyakinan. Meski di akhir tahap, selangkah lagi, saat menjalani wawancara dengan direktur, Ibu Herdina (setelah itu saya memanggilnya Bunda PTPP :D), saya merasa tidak cukup puas dengan apa yang saya ucapkan saat itu. Saya merasa terjebak dengan alur komunikasi yang dibangun beliau. Hehehe. Kuncinya sih satu, jujur saja yang penting.

Daaaaan, syukur Alhamdulillah saya diterima magang disana. Tidak menyangka sama sekali. Padahal saya sudah merasa ndak lolos saja. Mendapatkan teman-teman magang yang super J

Bulan Maret

Selama satu bulan itu, bisa dibilang saya semakin sibuk. Program kerja BEM yang sudah harus dilaksanakan, serta OJT (On the Job Training) yang harus diikuti di tempat magang. Menjadikan saya memiliki waktu yang terbatas dengan teman-teman plek saya, seperti Lay, Amira, Beta dan Tia. Kalau sama Nisa sih masih suka ketemu pas rapat proker.

Saya sadar saya butuh strategi untuk bisa meregulasi waktu sebaik mungkin. Apalagi saat itu saya sudah punya pacar. Untungnya saja saya LDR. Meski galau karena ditinggalin terus-terusan, proker BEM dan aktivitas magang cukup bisa mengalihkan perhatian saya.

Dan di akhir bulannya, mas pacar mengunjungi saya setelah 2 bulan berjauhan dengan saya. Lalu, langsung dihadapkan pada proker Donor Darah yang akan dilaksanakan sehari setelah mas pacar pulang. Belum lagi, tugas kantor dan tugas kuliah yang semakin menghadang. Baiklah, saya sebut bulan ini sebagai bulan tersibuk tahun 2012.

Bulan April

Yaaaak! Kegiatan magang dimulai. Setelah menjalani proses OJT selama sebulan, pihak direktur merasa kami sudah siap untuk “diterjunkan ke lapangan”. Tour on the weekend dimulai!! Pada saat weekend, baik itu sabtu maupun minggu, saya akan pergi keluar kota. Bukan untuk jalan-jalan, namun untuk menjalankan tugas negara. Hehehe. Sidoarjo, Kediri dan Jombang, ketiga kota itu saya sambangi pada bulan itu. Sedangkan pada hari Senin-Jumat, saya harus menjalani piket di kantor. Kantor yang nyaman dan asyik, bagaikan rumah kedua. Kadang tidak terasa piket hingga maghrib tiba. Jam eksis di kantor semakin bertambah.

And then, masalah kuliah? Hmmmm, bener-bener agak keteteran, tapi saya yakin saya bisa memperbaiki IPK saya di semester lalu. Beberapa mata kuliah, seperti penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif seakan menambah kesulitan mencapai IP bagus di semester ini. Kedua mata kuliah besar sebagai prasyarat skripsi, mau tidak mau saya harus mengambilnya. Ingaaat, saat itu saya sudah semester tua, semester 6! L

Bulan Mei

Tidak terasa, awal bulan itu harus dihiasi dengan UTS (Ujian Tengah Semester) ditengah padatnya jadwal piket dan jadwal rapat pengmas. Kondisi kesehatan sempat jeblok pada bulan ini. Mungkin badan ini masih mulai beradaptasi dengan ritme pekerjaan dan kuliah yang padat.

Dan waktu yang saya tunggu-tunggu tiba. Mas pacar akan berulang tahun disini bersama saya. Alangkah senangnya hati ini (sedikit lebay tapi ya memang begitu perasaannya). Apalagi saat-saat itu merupakan titik awal hubungan keseriusan kami. Saya diperkenalkan dengan kedua orang tuanya yang diimpor langsung dari Banyuwangi, hehehe.. Berjalan bersama mereka di sebuah mal. Tidak hanya diperkenalkan dengan orang tuanya, tapi komplit dengan kakaknya serta ponakannya.

Bulan Juni

Saya lupa bulan ini ngapain aja hehe. Ada beberapa project  kantor sih tapi lupa dimana aja. Yang pasti saya selalu ribet ngerjain tugas, bagi waktu piket magang, dan bertukar kabar dengan pacar saya. Oh yaaaa, saya inget, bulan-bulan ini adalah bulan penuh kegalauan. Mas pacar yang tak kunjung pulang, dan tak mengejar kabar dari saya lagi. Yaaah, capek kali ya ngejar-ngejar dari jakarta ke surabaya :p

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2013 in Cerita, Pengalaman, Uncategorized

 

Tag: , ,

Cerita PKL #1

Yah, akhirnya saya PKL di Rumah Sakit Jiwa Rajiman Wediodiningrat atau yang lebih dikenal dengan RSJ Lawang. Mendengar namanya saja sudah agak merinding. Kenapa? Ya karena saya teringat bahan becandaan saat mengenyam bangku sekolah. “Heh, ndang nang Lawang kunu!” (hei, cepetan ke lawang sana!). saat itu saya ga ngerti lawang itu apa dan dimana. Alhasil saya bertanya pada Ibu. Ibu menjawab lawang itu ada di Malang. Dan pikir saya saat itu, jika lawang adalah salah satu tempat wisata, lagipula yang saya ngerti selama ini kalo Malang ya banyak tempat wisatanya. Seiring dengan berjalannya waktu, baru tau kalo disana ada rumah sakit jiwanya. Rumah sakit jiwa kedua yang saya tahu setelah Menur *saya juga sudah ke Menur dan awesome banget* #abaikan

Balik lagi cerita mengenai PKL. Beda dengan PKL-PKL sebelumnya, PKL mata kuliah Psikologi Abnormal dengan tujuan RSJ Lawang ini diadakan pada saat weekend, sabtu kemarin,  17 Desember 2011. Jadi bisa dipastikan jika Ibu bertanya, “tumben berangkat pagi dek?” “Mau ke Lawang,” jawab saya. “Oh liburan yak?” ibu bertanya lagi dan saya pun menjawab “Iya Mam. Ke RSJ Lawang hehehe” Bukannya salah tingkah, ibu malah berpesan, “Jangan lupa banyakin kenalan disana!” dan respon saya, “Emooooh mam!!”

Dan kembali lagi ke cerita awal. Berangkat jam setengah 7 tet dari gerbang kampus. Hati ini ngerasa seneng banget, apa karena udah lama ga liburan ya? Atau karena ga sabar ketemu “kawan lama”? Hahaha, yang pasti perjalanan saya cukup mengasyikkan, meski didalam bis saya masi berkutat dengan PPDGJ (Pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa) dan berdiskusi dengan Nisa dan Lay mengenai Schizophrenia, Depresi, Siklotimik dan apapun itu. Hingga akhirnya, jam 10 tet nyampe juga disana.

Dan saya baru nyadar kalo RSJ Lawang itu berada di gang tepat seberang Bakpao Telo lho. Jadi mungkin setelah teman-teman berbelanja jajanan yang berbahan dasar telo (ubi) bisa langsung mampir ke tempat tersebut. Soalnya disana, pemandangannya indah banget, asri, sejuk. Pasti kalo yang ga tau menyangka tempat itu adalah “hunian” yang pas dan indah. Padahal,, Wkwkwk!

Pemandangan RSJ Lawang

Setelah turun dari bis. Alhasil, kami langsung diarak ke aula yang cukup besar. Beredar selentingan kabar mengejutkan, “Eh, ntar mahasiswanya dapat pasien satu-satu!” Wow, amazing!  Saya mah wajar-wajar saja. Yah bisa diliat dengan luas RSJ Lawang yang sebegitu gedenya, dan banyaknya bangunan disana, bisa dipastikan jika pasien RSJ Lawang akan lebih banyak dibandingkan mahasiswa PKL yang saat itu datang disana.

Tapi begitu masuk aula, bayangan-bayangan buruk mulai menghantui gara-gara kabar mengejutkan itu. Baru sejenak duduk di kursi saja, saya langsung mengajak salah satu teman saya untuk ke toilet. Ga lama setelah itu, balik ke toilet lagi -__-‘ *Inilah saya, kalo ngerasa tegang bisa bolak-balik pergi ke toilet*

Di aula mendengar sambutan dari salah satu kepala divisi Rumah Sakit yang disertai beberapa penjelasan mengenai rumah sakit ini. RSJ Lawang ini memang Rumah Sakit Jiwa tertua karena dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Iya sih, diliat dari bangunannya aja masih agak kuno-kuno gitu. Setelah itu, kami semua dibagi menjadi 4 kelompok besar. Saya masuk ke kelompok dua dengan tujuan bangsal Flamboyan yang isinya para pasien wanita dewasa dengan didampingi seorang psikolog yang bekerja disana.

Yah, pasien disini jauh lebih adaptif. Kenapa? Karena saya punya pengalaman sebelumnya di RSJ Menur, pasiennya lebih agresif, banyak yang nyolek-nyolek bahkan minta kenalan. *So, lebih asik di Menur kan :p*

Nah, waktunya tiba. Satu kelompok besar itu tadi dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jadinya, saya sekelompok sama Nisa, Lay, Amira dan Eris. Satu kelompok kecil itu tadi akan “diberi” satu pasien secara cuma-Cuma *loh*. Pasien kami namanya Mbak Yn, dia baru “datang” sekitar sebulan lalu. Ia merupakan “murid” pindahan dari Liponsos Keputih Surabaya. Pasien Yn ini cukup ramah lho, hampir semua mahasiswa yang berada di situ ia salami. Jabat tangannya pun erat sambil menyunggingkan senyum. Pasien berumur 29 tahun *ngakunya sih 3 tahun*. Menurut perawat yang bertugas disana, Yn menderita RM (Retardasi Mental) dengan GMO (Gangguan Mental Organik). Namun kami tidak mengetahui secara spesifik GMO-nya itu apa dan RM di level apa. Kami cukup melakukan observasi dan wawancara terhadap Yn *meskipun bisa dipastikan banyak ga nyambungnya* serta pada perawatnya. Sayangnya, kami kesulitan mendapatkan data asesmen lengkap yang telah dijalani Yn karena pihak RSJ yang kelihatannya keberatan untuk memberikannya.

Kurang lebih 45 menit, kami “bercengkrama” dengan kawan baru dan melengkapi data. Akhirnya kami diarak lagi ke aula.  Padahal jujur saya sangat ingin berjalan-jalan di lokasi yang luasnya ±5 hektare itu. Tapi ya ini semua karena keterbatasan waktu, kapan-kapan saya akan berkunjung lagi kesana, entah kapan 🙂

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi

 

Jatuh Cinta Diam-Diam, pernah gak sih???

Hei ho,

pernah gak sih kamu ngalamin JATUH CINTA diam-diam (ssssttt) dan kamu gak berani mengungkapkannya?

kmrn ada teman yang cerita banyak gitu. ya, gitu deh, biasa cewek… aku juga pernah *blushing*

ada rasa enak dan gak enaknya…

berikut ceritanya…

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya tidak berani menyatakan dengan terus terang apa yang menjadi perasaan saya. Tetapi hanya menyampaikan isyarat-isyarat yang menurut saya cerdas dan berharap orang yang dijatuh cintai terkesan, padahal tahupun tidak apalagi menoleh dan kemudian jatuh cinta.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya tahu dengan detail semua informasi tentang dia, orang yang dia dekati, teman-temannya, hobbynya, kapan ia berulang tahun. Dari mana saya tahu semua itu? Seperti biasa, dari temannya teman temannya teman dan dari temannya teman dari temannya. paling tidak, saya tahu dari FBnya

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya hanya memenuhi diary saya dengan catatan perasaan hati yang tak tersampaikan. Menggambar hati dalam screen server computer, menggabungkan inisial namanya dan nama saya dan menjadikannya secara diam-diam dalam sampul depan buku-buku. Saya juga sering menuliskan namanya banyak-banyak dan mencoretnya lagi karena saya merasa tidak pantas dengannya.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya bertingkah seperti layaknya seorang penguntit. Secara diam-diam mengikuti perkembangannya, lihat wall FBnya setiap hari, ganti apa statusnya, siapa yang komentar di statusnya dan dia sedang komentar apa di status temen-temennya. Meng add semua temen-temennya dan berharap tahu semua informasi dia sedang apa, lagi dimana, sekarang pacarnya siapa dan hanya melihat dari kejauhan tanpa berani berterus terang.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya sering melihat secara diam-diam foto-fotonya di facebook dan mencuri salah satunya, mencrop dan mengedit fotonya kemudian saya gabung dengan foto saya sehingga kita tampak seperti pasangan serasi. Diam-diam foto itu kemudian menjadi wallpaper di hape saya, yang bisa saya pandangi setiap saat dan sebelum tidur tanpa dia tahu bahwa saya diam-diam sering banget merindukannya. saya juga kadang menggunting bagian wajahnya dan menaruhnya di dompet dibelakang foto saya

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya pernah menelepon dan langsung menutup teleponnya kembali. Saya hanya ingin mendengar semerdu apa suaranya. Cukuplah puaslah sudah. Saya seringkali ingin mengirim SMS duluan, tapi rasa takut itu diam-diam menyergap. Takut saya dibilang cewe agresif, takut bersaing dengan cewe lain yang mungkin juga akan meng SMS dia.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Pada akhirnya saya selalu melamun tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali kenapa saya tadi tak melakukan apapun. Diam-diam cemburu sendiri, marah, uring-uringan sendiri tanpa kejelasan melihatnya becanda dengan perempuan lain.

Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Pada akhirnya saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah pengharapan ini, pengharapan yang dari dulu, yang tumbuh mulai kecil, hingga makin lama semakin menjauh. Dan pada akhirnya menerima bahwa dia tak memperhatikan saya. Ah, susahnya saya sebagai perempuan yang sedang jatuh cinta. Harus diam-diam memendam perasaan tanpa berani mengungkapkan.

Dan sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam :

Saya hanya bisa : JATUH CINTA SENDIRIAN

WAKE UP, GIRLSS….

semua itu terserah padamu. kamu mau MENGUNGKAPKANNYA atau MEMBIARKANNYA MEMBUSUK dan berlalu begitu saja… 😀

terserah…

mendingan di ungkapin aja 🙂

copas dari note seorang temen 😀

*tapi kalo saya mah mending dipendem aja*

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi

 

99 Detik yang Berharga

Hari itu, seperti biasa harus melewati jalan itu untuk bisa sampai ke kampus tercinta. Bukan satu-satunya akses jalan buat ke kampus sih, tapi lebih pada efisiensi waktu. Dari jalan Indragiri lurus hingga ketemu Gelora Pancasila, berjalan agak memutar di depan Resto Kebun Kelapa. Setelah lampu merah lurus saja, hingga melewati tempat Karaoke Nav di sisi kiri. Hingga sampai di perempatan lampu merah lagi. Kalo ke kiri menuju arah Urip Sumoharjo dan Tunjungan, jika lurus saja menuju jalan Polisi Istimewa dan Sriwijaya. Dan di perempatan lampu merah inilah, cerita akan saya angkat!

 

Salah satu traffic light yang saya benci ya di daerah itu, selain traffic light yang ada di perempatan Ngagel, dekat Bilka swalayan. Kenapa? Karena, perubahan traffic lamp dari merah menjadi hijau begitu lamanya. Sekitar 120 detik (2 menit). Jadi bayangkan saja jika waktu sudah mepet untuk masuk kuliah dan saya harus menunggu lampu merah menjadi hijau, pasti sudah ketar-ketir rasanya.

 

Hari itu, saya masuk pagi. Kuliah pagi dimulai sekitar 07.30. Padahal 07.20 saya masih berada di perempatan lampu merah tersebut bersaing dengan aneka kendaraan yang terkumpul disana. “Alamat telat iki,” pikir saya dalam hati. Saat itu, saya berada di sisi kanan (padahal biasanya di sisi kiri) nyempil di sebelah mobil Alphard Hitam yang mengkilat, untungnya Motor Honda Supra X keluaran 2005 milik saya tidak kalah mengkilatnya, meski masih agak berdebu di sana sini. Hehehe :p

 

Tidak jauh dari pandangan saya, terlihat seorang loper koran sedang duduk di pinggir trotoar. “Wah, ini tukang loper Koran males banget sih jualin korannya, cuman duduk-duduk doank,” kata saya sinis. Sayup-sayup terdengar bapak-bapak pengendara motor memanggil si tukang loper Koran. “Woi, Koran!” Tak dinyana, sang loper Koran bangkit dan darah saya berdesir. “Astaghfirullah!” Begitu hina-dinanya saya, ber-suudzon dengannya, mengatakan dia males padahal untuk bangkit saja dia susah. Ia menghampiri pembeli korannya dan dengan tertatih, ia kembali ke tempatnya semula.

 

Lampu hijau hanya muncul 30 detik. Saya tidak sempat mengejar ketertinggalan lampu hijau. Akhirnya, saya kembali menunggu lampu. 99 detik lagi. Pandangan saya dengan loper Koran itu semakin dekat. Dengan cepat, saya buka dompet mengeluarkan uang 5ribuan. Menghampiri sang loper Koran, kasihan kalo dia yang menghampiri saya. Biarkan saya yang ngalah. “Pak, jawa pos satu!” pinta saya. “Ini mbak” seraya menyerahkan sebundel Koran dengan penuh senyum. Subhanallah, begitu ikhlasnya bapak ini.

“Berapa Pak?”

“Tiga Ribu Lima Ratus”

 

Dan saya pun menyerahkan uang lima ribuan yang telah saya siapkan, sebelum si bapak loper Koran mengambil uang kembalian saya ngomong, “Sudah Pak! Ambil saja kembaliannya!” perintah saya. Si Bapak bersikeras tetap ingin memberikan uang kembalian seraya berkata,

“Jangan lah mbak. Saya cuman butuh 3500 aja. Saya juga ga minta-minta koq mbak. Meski dengan keadaan saya kayak gini, selama saya bisa kerja dan kerjaannya halal akan saya lakukan.”

“Lho Pak. Saya ikhlas koq.”

“Saya yang ga ikhlas mbak”

Seketika hati ini luluh. Air mata tidak terasa meleleh juga. Pagi itu, saya basah dengan air mata. Perkataan bapak itu seakan membuat diri saya semakin sadar. Dengan kondisi normal seperti ini, saya masih saja merepotkan orang lain, sedangkan bapak itu dengan kondisi kaki yang terserang polio sehingga ia tidak bisa berjalan sempurna. Untuk melangkah saja terseok-seok, tapi ia mampu bertahan.

Lampu Hijau. Saya ingat kalo ada kuliah pagi.

“Makasih ya Pak!”

“Iya Mbak. Hati-hati!”

Dan kata terakhir dari bapak loper Koran itu semakin membuat trenyuh. Saya memang belum tau namanya. Saya baru kenal beberapa detik yang lalu. Tapi beliau sedemikian baiknya dengan saya. Sungguh, 99 detik yang berharga!

 

Mari kita renungi, ada dua pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa ini :

Saya semakin menyadari untuk harus bisa melakukan segala halnya sendiri. Tidak perlu merepotkan orang lain. Selagi saya bisa. Selagi saya mampu. Lakukan sendiri!

Kembalikan yang bukan merupakan hak kita. Jujur, saya sedikit korupsi jika disuruh ibu saya, “Dek, belikan nasi goreng.” Harganya 7ribu rupiah. Ibu membawakan uang 10ribu rupiah. Uang kembalian 3ribu rupiah. Alhasil, jarang sekali uang kembalian itu saya antarkan bersama dengan nasi gorengnya. Yang paling sering saya lakukan adalah menaruhnya di dompet saya dan bilang itu sebagai uang lelah. Miris sekali kalo punya anak seperti saya! -__-‘

 

NB : sebenernya mau ngambil foto bapak loper korannya sekalian, sayang tdk ada kesempatan 😦

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Cerita, coretan, Pengalaman, Psikologi

 

Berubahlah jadi lebih baik, meski susah!

Satu hal yang pasti akan abadi di dunia ini, yaitu Perubahan. Perubahan semacam apapun itu yang penting memastikan bahwa diri kita hasilnya akan berbeda dengan diri sebelumnya. Nah, bagaimana jika ada orang lain yang datang kepadamu dengan niat yang tulus, memintamu untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik?

Banyak orang beranggapan jika berubah demi orang lain itu sama saja seperti memaksakan kehendak orang lain terhadap diri kita. Orang lain terlalu banyak menuntut pada diri kita. Terlalu picik jika Anda berpikiran seperti itu! Cobalah berpikir pula sebaliknya, Itu adalah sebuah bentuk kepedulian padamu. Anda manusia yang sudah dewasa kan? Pasti tau mana yang sekedar menuntut dan mana yang peduli dengan anda..

Maksimalkan saran perubahan itu dengan menginternalisasikan dahulu kepada diri kita. Kita tidak serta merta menerima saran perubahan. Pertimbangkan dan bandingkan lebih banyak manfaatnya atau mudharat-nya. Berubah jadi lebih “baik” menurut orang lain itu susah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semudah seperti seorang Peter Parker berubah menjadi Spiderman. Hahaha!! :p

Semuanya butuh proses. Proses pendewasaan diri, serta proses introspeksi diri. Apa yang patut kita ubah dari diri kita, dan apa-apa juga yang patut kita pertahankan. Karena tidak semua kritik dan saran dari orang lain kita olah sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang diinginkan orang lain. SALAH BESAR! Itu sama saja seperti perumpamaan kerbau yang dicocok hidungnya. Anda hidup menjadi seorang manusia kan? #pertanyaanbodoh. Jadi, hidup itu antara Anda dengan orang lain sekitar Anda. Manusia adalah makhluk sosial, perlu berkomunikasi, perlu menjalin hubungan interpersonal yang baik dan pasti Anda tidak mampu hidup sendiri, karena Anda bukan DEWA!

Allah sangat menghendaki umatnya untuk bisa berubah, dengan niatannya sendiri. Karena diri manusia yang lebih mengetahui adalah diri mereka sendiri. Allah berfirman dalam Q.S : Ar-Ra’duu : 11 “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu umat, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”.

Nah, sekarang tergantung kita tetap menjadi seseorang yang menutup telinga dengan aneka saran yang dilimpahkan orang lain terhadap kita? Atau membuka telinga selebar-lebarnya dengan menanggapi berbagai saran yang ada. Bicarakan pada diri Anda. Karena Anda sendiri yang lebih tahu, Anda ingin berubah menjadi lebih baik yang seperti apa, menurut orang lain, menurut diri Anda sendiri atau kombinasi antara keduanya?

Kalau bukan diri Anda sendiri yang bisa mengerti Anda, siapa lagi? Let’s talk to ourself! To change…

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Cerita, coretan, Pengalaman