RSS

Arsip Penulis: arialuqita

Tentang arialuqita

Hanya seorang wanita biasa yang ingin mencurahkan setiap pemikiran dan pengalamannya,,

Mengapa Doamu tidak dikabulkan? (1)

Teringat obrolan bersama seorang teman beberapa minggu yang lalu. Awalnya, kami hanya mengobrol santai sambil menikmati makan malam kami di sebuah restoran cepat saji. Saling bertukar kabar tentang dunia perkuliahan kami hingga pengalaman kami sehabis menjomblo. Yeaaa! Entah kenapa bahasan tentang mantan juga menjadi teman makan malam kami. Seakan-akan membahas masalah sakit hati itu tiada batasnya bagi kami. Hingga akhirnya, obrolanku terhenti pada suatu pertanyaan, “Aku sudah sering istikharah lho buat meminta petunjuk dari Allah tentang jodohku. Dari dulu. Tapi kenapa koq jawabannya ga keliatan juga ya?!”

Sedikit kekecewaan tergambar jelas dari pertanyaan itu. Teman makanku yang hanya berbeda setaun diatasku mencoba memberikan pemahaman dengan sebuah perumpamaan.

“Jadi ya, kamu itu ibaratnya seperti sebuah handphone. Terus permohonanmu itu ibaratnya SMS, kamu kirim SMS ke Allah, tapi sampe sekarang kamu belum mendapat balesannya. Bisa aja kan SMS mu itu pending, providernya mbambet gegara kamu masih pake handphone abal-abal kayak HP China. Coba kalo kamu pake hape yang lebih bagus, yang ga rusak, yg ga bikin SMS pending, pasti sekarang jawaban SMS mu sudah kamu terima dengan baik. Tau maksudnya?”

Betapa jawaban itu cukup seperti mendorong ke jurang yang gak berair. Jleb! Yah, seperti itulah jawaban yang menyadarkanku selama ini. Apakah kita sudah memperbaiki diri kita sebelum memohon pada-Nya?

Janganlah menuntut Rabb-mu karena permohonanmu belum dikabulkan oleh-Nya. AKan tetapi tuntutlah dirimu sendiri yang mungkin belum memenuhi syarat dikabulkannya sebuah permohonan. (Al Hikam; Syaikh Ibnu ‘Athaillah)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 November 2013 in Cerita, Pengalaman

 

Tag: , ,

Kenangan 2012 (1)

Bulan Januari

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu semarak saat menyambut tahun baru. Karena 9 hari setelah petasan dan kembang api muncul di langit, angka baru muncul dalam kehidupan saya. Yah, semarak tahun baru di “tahun” saya yang baru. Saat itu, saya memiliki sahabat yang sangat baik yang pernah saya miliki, dan memberikan saya kado istimewa. Dan pastinya kecupan mesra di kening dari Abah dan umik saat subuh.

Pertengahan bulannya, tepat tanggal 15, saya menghadiri kosma (kongres mahasiswa) di fakultas saya untuk dikukuhkan sebagai anggota BEM. Ini adalah titik balik saya, dimana terakhir kali saya terjun di organisasi pada saat SMP. Di BEM Fakultas Psikologi, ini saya mendapati teman-teman yang baik dan hangat, terutama divisi Pengabdian Masyarakat, dengan manajernya Fauzi, yang nantinya ternyata menjadi partner saya di kantor magang. Nisa, sahabat terbaik saya semenjak duduk di bangku kuliah. Johan, Apid, Budi alias Bima, Lisa dan Cesna, yang baru saya kenal.

Akhir bulannya, Alhamdulillah saya menemukan (insya Allah) penjaga hati saya, namanya mas Danu. Meski yang saya tau, dia lebih familiar dengan nama Anggie di mata keluarganya dan teman-temannya yang saya kenal. Dan yang membuat saya kaget lagi, dia memiliki nama beken saat kuliah, Ujang. Jadilah saya berpacaran dengan mas Anggie alias mas Danu alias mas Ujang (namanya banyak, jadi inget nama narapidana yg juga pakai alias2 gitu pas ditulis di koran :p)

Yaaaak! Pertama dalam hidup saya. Saya akan menjalani LDR alias Long Distance Relationship. Padahal, sebelumnya saya selalu mengolok-olok sahabat saya yang sedang LDR. Dan ternyata, apesnya saya mengalaminya. Sebuah apes yang menghasilkan pengalaman. Yeaaaah!

Bulan Februari 

Di bulan ini, saya menikmati masa-masa semester menjelang akhir saya. Ribet KRS, dan KHS yang tidak menghasilkan senyuman. Yah, IPK saya turun pada waktu itu. Nangis? Jelas! Saya kembali menikmati hasil yang tidak memuaskan, sebuah angka 2,98. Bikin enek! Padahal kurang 0,02 saya bisa mengambil 22 sks. Nasib…

Tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk mampu mencapai semuanya. Saat itu, saya menjalani sebuah proses seleksi dari rekrutmen yang diadakan oleh salah satu unit terapan di fakultas saya. Namanya Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP). Saya rasa disitulah nanti tempat saya akan berkembang, sesuai dengan peminatan saya, yakni Psikologi Pendidikan. Setiap tahapnya saya lalui dengan penuh percaya diri dan keyakinan. Meski di akhir tahap, selangkah lagi, saat menjalani wawancara dengan direktur, Ibu Herdina (setelah itu saya memanggilnya Bunda PTPP :D), saya merasa tidak cukup puas dengan apa yang saya ucapkan saat itu. Saya merasa terjebak dengan alur komunikasi yang dibangun beliau. Hehehe. Kuncinya sih satu, jujur saja yang penting.

Daaaaan, syukur Alhamdulillah saya diterima magang disana. Tidak menyangka sama sekali. Padahal saya sudah merasa ndak lolos saja. Mendapatkan teman-teman magang yang super J

Bulan Maret

Selama satu bulan itu, bisa dibilang saya semakin sibuk. Program kerja BEM yang sudah harus dilaksanakan, serta OJT (On the Job Training) yang harus diikuti di tempat magang. Menjadikan saya memiliki waktu yang terbatas dengan teman-teman plek saya, seperti Lay, Amira, Beta dan Tia. Kalau sama Nisa sih masih suka ketemu pas rapat proker.

Saya sadar saya butuh strategi untuk bisa meregulasi waktu sebaik mungkin. Apalagi saat itu saya sudah punya pacar. Untungnya saja saya LDR. Meski galau karena ditinggalin terus-terusan, proker BEM dan aktivitas magang cukup bisa mengalihkan perhatian saya.

Dan di akhir bulannya, mas pacar mengunjungi saya setelah 2 bulan berjauhan dengan saya. Lalu, langsung dihadapkan pada proker Donor Darah yang akan dilaksanakan sehari setelah mas pacar pulang. Belum lagi, tugas kantor dan tugas kuliah yang semakin menghadang. Baiklah, saya sebut bulan ini sebagai bulan tersibuk tahun 2012.

Bulan April

Yaaaak! Kegiatan magang dimulai. Setelah menjalani proses OJT selama sebulan, pihak direktur merasa kami sudah siap untuk “diterjunkan ke lapangan”. Tour on the weekend dimulai!! Pada saat weekend, baik itu sabtu maupun minggu, saya akan pergi keluar kota. Bukan untuk jalan-jalan, namun untuk menjalankan tugas negara. Hehehe. Sidoarjo, Kediri dan Jombang, ketiga kota itu saya sambangi pada bulan itu. Sedangkan pada hari Senin-Jumat, saya harus menjalani piket di kantor. Kantor yang nyaman dan asyik, bagaikan rumah kedua. Kadang tidak terasa piket hingga maghrib tiba. Jam eksis di kantor semakin bertambah.

And then, masalah kuliah? Hmmmm, bener-bener agak keteteran, tapi saya yakin saya bisa memperbaiki IPK saya di semester lalu. Beberapa mata kuliah, seperti penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif seakan menambah kesulitan mencapai IP bagus di semester ini. Kedua mata kuliah besar sebagai prasyarat skripsi, mau tidak mau saya harus mengambilnya. Ingaaat, saat itu saya sudah semester tua, semester 6! L

Bulan Mei

Tidak terasa, awal bulan itu harus dihiasi dengan UTS (Ujian Tengah Semester) ditengah padatnya jadwal piket dan jadwal rapat pengmas. Kondisi kesehatan sempat jeblok pada bulan ini. Mungkin badan ini masih mulai beradaptasi dengan ritme pekerjaan dan kuliah yang padat.

Dan waktu yang saya tunggu-tunggu tiba. Mas pacar akan berulang tahun disini bersama saya. Alangkah senangnya hati ini (sedikit lebay tapi ya memang begitu perasaannya). Apalagi saat-saat itu merupakan titik awal hubungan keseriusan kami. Saya diperkenalkan dengan kedua orang tuanya yang diimpor langsung dari Banyuwangi, hehehe.. Berjalan bersama mereka di sebuah mal. Tidak hanya diperkenalkan dengan orang tuanya, tapi komplit dengan kakaknya serta ponakannya.

Bulan Juni

Saya lupa bulan ini ngapain aja hehe. Ada beberapa project  kantor sih tapi lupa dimana aja. Yang pasti saya selalu ribet ngerjain tugas, bagi waktu piket magang, dan bertukar kabar dengan pacar saya. Oh yaaaa, saya inget, bulan-bulan ini adalah bulan penuh kegalauan. Mas pacar yang tak kunjung pulang, dan tak mengejar kabar dari saya lagi. Yaaah, capek kali ya ngejar-ngejar dari jakarta ke surabaya :p

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2013 in Cerita, Pengalaman, Uncategorized

 

Tag: , ,

Kutipan

” Aku akan selalu menyebut namamu dalam setiap sholatku, setelah orang tuaku.
Aku akan selalu berikhtiar dalam hajat-ku demi kelancaran kehidupanku bersamamu.
Meski hingga saat ini, kau tidak muncul juga pada jawaban dalam istikharah-ku.
Tapi aku meyakini kamulah yang akan menjadi calon imam-ku kelak. Amin “

Akan selalu…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2013 in Uncategorized

 

Tag: , ,

“LDR itu susah ya,” katanya…

Malam ini, malam pertama liburan saya. Dan sudah lama tidak mengisi blog yang mungkin sekarang udah banyak “sarang laba-laba”nya gara-gara udah ga pernah lagi ditengokin :p

Yah, jadi gini. Iseng-iseng saya menuliskan keyword “LDR itu susah” di search engine Google, dan ternyata cukup banyak artikel yang memuat tentang itu. Latar belakang saya menuliskan keyword itu adalah akhir-akhir ini pacar saya yang galau dan cukup sering ngomong “LDR itu susah ya”

 Gambar

 

Susah? Oke, saya juga susah buat mengerti itu. Sebuah keluhan yang hanya terdiri dari 4 buah kata. Sebuah kalimat yang mampu membuat saya cukup miris, dan merasa tergelitik untuk mengajukan pertanyaan lagi, “Terus kenapa?”

Berawal dari kejadian itu, saya menganggap kalo semuanya itu pasti bisa dijalani asalkan ada niat! Saya ingat-ingat perkataan Ibu saya “Jalani semuanya pake niat, gak usah main-main”. Meski baru pertama kalinya saya LDR, tapi toh saya cukup nyaman dengan kondisi ini. Masih bisa bebas main sama temen2, bebas mau ngapain aja, kemana aja meski ga ada pendamping. Toh, saya juga masih punya banyak teman. Beda lagi kalo ga ada yang bisa diajakin buat jalan T-T

Baiklah! Memang susah sih kalo ngeliat kejadian diatas. Jalan kemana-mana sendiri, kadang juga sama temen, kalo ga ada temen jalan, apalagi kalo malem minggu ya bisanya cuman di rumah aja. Berasa jomblo kan? Padahal di berbagai social media yang saya punya, semua avatarnya sudah saya pakaikan foto berdua sama si pacar, info relationship juga berpacaran sama si dia. Tapi, galau ternyata masih menyertai kehidupan saya.

LDR itu sama kayak pacaran, tapi cuman sekedar status. Orang lain tau saya pacarnya, dan dia pacar saya. Hanya itu! Ga pernah jalan bareng, ga pernah diapelin dan ga pernah diantar jemput. Mungkin saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, karena mungkin pacar-pacar saya sebelumnya itu ya macemnya kayak gitu. Ga seperti apa yang pernah diceritain si pacar saat menjalani hubungan dengan pacar-pacar sebelumnya, yang sering banget ketemuan…

Ya mungkin itulah alasan kenapa pacar saya mengeluh seperti itu. Sebenarnya jarak Surabaya-Jakarta itu ga cukup jauh sih, dan ga cukup dekat juga. Tapi cukup mahal ongkosnya dan cukup lama perjalanannya ==’ Apa yang dikeluhkan itu merupakan apa yang sedang ia rasakan. Terus berusaha saja lah untuk tidak putus berkomunikasi, berusaha mengetahui keadaannya, dan sedikit posesif juga boleh. Memberikan perhatian ekstra juga diperlukan agar si pacar tidak melirik ke yang lain, tapi jangan banyak2 deh, daripada nanti malah salah paham. Inget, sesuatu yang berlebihan itu enggak baik! Biarkan saja bebas, toh pacaran itu adalah sebuah komitmen koq.

Tetap berusaha menjaga hubungan ini. LDR itu butuh pengorbanan yang banyak lho. Sayang banget kalo disia-siakan. Biarkan semua mengalir apa adanya. Optimis untuk berkata “Aku berusaha untuk menjadikannya lebih mudah koq”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juli 2012 in Uncategorized

 

Dahlan Iskan, Knowledge Management dan PLN saat itu

Banyak spekulasi terkait pengangkatan Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN menggantikan Fahmi Mochtar Baru kali ini, pemerintah mengangkat seoran direktur utama bukan dari kalangan birokrasi pemerintahan. Beliau lebih dikenal sebagai pengusaha bisnis media. Hal inilah yang mengundang berbagai reaksi masyarakat yang menolak adanya kebijakan ini karena dinilai Dahlan Iskan tidak berkompeten dalam mengemban tugas ini.

Namun kenyataannya adalah beliau mampu membuat gebrakan pada PLN. Ini bisa diramalkan dari pernyataan Meneg BUMN Mustafa Abubakar (yang saat ini jabatannya malah digantikan oleh Dahlan Iskan :p ). Dikatakan bahwa Dahlan Iskan memiliki gagasan yang radikal dalam mengelola PLN. Yang akan dijelaskan saat ini adalah bagaimana beliau mengelola knowledge dalam lingkup PLN saat itu.

Sudah banyak yang tahu, Dahlan Iskan identik dengan Jawa Pos. Beliaulah yang mengembangkan media Jawa Pos, mulai dari 0 hingga bisa sukses seperti sekarang ini. Beliau mampu menciptakan atmosfer inovatif dan kreatif pada para karyawannya. Tidak jarang beliau “turun langsung” menciptakan atmosfer itu. Dan budaya itulah yang dibawa beliau untuk berusaha mengembangkan PLN.

Beliau berusaha mengubah stigma PLN yang sejatinya adalah korporasi milik pemerintah, yang terkenal tidak gampang membagi pengetahuan alias tertutup. Di tangan seorang manajer profesional seperti beliau, seakan menghembuskan angin segar terhadap para pembelajar yang haus akan pengetahuan atau segala apapun mengenai korporasi.

Beliau menawarkan kultur share knowledge yang pernah ia lakukan saat menjadi CEO di Jawa Pos. Kultur yang berbeda yang tidak pernah ditemui sebelumnya dalam korporasi milik pemerintah. Dengan perannya yang pandai dalam mengelola individu dalam organisasi, menurut saya pribadi itu adalah hal yang mudah bagi beliau. Individu menurutnya adalah sosok yang sangat berharga, karena disanalah tertanam knowledge yang harus diamalkan.

Organisasi tidak akan bisa berkembang bila aliran pengetahuan (knowledge flows) itu terbatas. Beliau mengenalkan pentingnya pengetahuan itu jika diamalkan dan serba tak terbatas. Tercetuslah ide untuk membuat suatu wadah yang berjudul CEO Notes. CEO Notes berisi artikel-artikel dari para petinggi PLN, kebanyakan oleh Dahlan Iskan sendiri, yang berisi tentang segala pengetahuan yang dimiliki oleh para petinggi tersebut untuk memberikan informasi terkait dalam pengembangan PLN, serta isu-isu mengenai kebijakan yang dilakukan oleh Dahlan Iskan.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari artikel yang dibuat oleh Dahlan Iskan, yakni yang berjudul “Murah yang membuat Marah”. Dibawahnya akan saya sertakan link-nya, untuk melihat artikel asli dari Beliau. Jadi ceritanya, di Madura, tepatnya di Blega, Bangkalan terjadi demo besar-besaran. Hal ini terjadi karena biaya pemasangan listrik pada masa Dahlan Iskan jauh lebih murah daripada yang sebelumnya. Beliau tidak memotong biaya-biaya untuk pemasangan listrik, tapi beliau hanya menetapkan biaya atas dasar apa adanya. Karena kebijakannya itulah malah melahirkan kemarahan dari pihak masyarakat yang meminta “kelebihan uang” atas biaya pemasangan listrik yang pernah dikeluarkannya dulu. Hahaha. Lucu memang. Dikasih murah saja marah, apalagi kalau tetap mahal ya? Lebih suka menuntut kelebihan, daripada kekurangan. Kalo biayanya mahal minta dikurangin, kalo biayanya terlalu murah, malah minta kelebihannya. Ada-ada saja!

Kembali pada konsep knowledge management yang beliau terapkan, strategi yang dipakai adalah dengan menggunakan codification strategy. Dengan pengembangan teknologi informasi yang semakin luas, penggunaan internet pun semakin mudah. CEO Notes dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan tidak hanya bagi internal PLN sendiri, tapi juga pada publik agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. CEO Notes menawarkan konsep transparansi. Itulah yang dibutuhkan publik saat ini, dan Dahlan Iskan berhasil mewujudkannya.

Knowledge Management dengan sistem groupware seperti ini semakin membukakan pemikiran individu untuk bagaimana bisa berperilaku seperti orang sukses yang menjadi idolanya. Baik itu nantinya diimplementasikan dalam kehidupan organisasinya, maupun dalam kehidupan pribadinya.

Secara pribadi, saya bukan pendukung setia Dahlan Iskan. Tapi saya berusaha untuk melihat beliau dari sisi kreativitasnya dalam hal mengelola manusia, terutama terkait dengan knowledge management yang pernah beliau terapkan di PLN. Melihat kinerjanya saat itu menjadi dirut PLN dan bisa memberikan terobosan seperti ini membuat saya memiliki harapan semoga korporasi pemerintah lainnya dapat meniru terobosan yang telah ia buat. Karena itu adalah warisan yang berharga bagi PLN. Lalu bagaimana ya nasibnya kini? 🙂

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2012 in Uncategorized

 

LDR… Ini memang sulit,,

Sebenarnya ga pernah nyangka bakalan mengalami hubungan jarak jauh kayak gini. Belum pernah dibayangkan sebelumnya. Padahal tuh ya, dulu saya sering banget ngolok-ngolok sahabat saya yang lagi LDR. Actually, hal itu pun saya alami juga saat ini.

Mungkin penderitaaan LDR yang dialami oleh sahabat tidak sedahsyat yang saya alami. Yah, sahabat saya menjalani LDR tidak dari awal ia menjalani hubungan dengan pacarnya. Ia baru mengalami LDR ketika hubungan mereka sudah mencapai angka 6 bulan. Sedangkan saya? Dari awal masa-masa pdkt, saya telah menjalani LDR. Awal-awal PDKT yang cukup menyiksa. Saya tinggal di Surabaya, dan pacar saya bekerja di Jakarta. Semuanya absurd. Semu! Karena cuman bisa mendengar suara sang pujaan hati lewat telepon, saling bertukar kabar via SMS, dan memanfaatkan semua jejaring sosial yang sama-sama kita miliki.

Pertama kali ketemu pun rasanya kayak blind date. Bagaimana rupa nyata orang yang selama ini mendekati saya? Saya mengira-ngira dan mengambil kemungkinan terburuk. Jangan-jangan profile picture yang dipasang itu palsu, penuh editan, dan berbagai asumsi buruk sudah melayang-layang di otak saya. But, at least, saya cukup beruntung lah, ternyata pacar saya cukup lumayan ganteng juga. Kami jadian. Dia kembali ke Jakarta. And LDR is begin!

Masa-masa pacaran kami tidak jauh beda dengan masa pdkt. Saya habiskan dengan hanya menelpon, berkirim SMS, dan kadang melakukan video call via skype. Dengan jangka waktu 3 bulan kami berpacaran, saya baru dua kali bertemu dengannya. Miris! Tapi itulah ujian yang harus kami hadapi bersama.

Banyak hal yang sudah kami lalui. Mulai dari maaf-maafan karena merasa salah (padahal lebaran masih jauh), saya yang mewek karena saking kangennya, sampe ketawa ngakak yang bikin perut melilit. Dengan LDR, saya merasa sangat menghargai adanya pertemuan. Kalau dengan pacar-pacar yang dulu sih, ketemu ya sekedar apel. Tapi kalo sekarang, ketemu ya harus benar-benar dimanfaatkan sebagai quality time.

Dengan LDR juga bisa melatih kesabaran. Yang namanya musuh para penikmat LDR itu adalah Rindu. Kadang kalo rindu itu sudah sampai ubun-ubun, dan pacar ga ngerespon. Beuuuuh, udah pengen galau aja. Be Positive Thinking aja! Siapa tau si pacar emang lagi sibuk kerja, kalo sibuk maen game sih lain lagi ceritanya! Haha… Yang pasti sih, sabar aja menghadapinya. Mengalah, kalo dirasa perlu, ya bisa lah dilakukan. Tapi ingat, kesabaran orang jangan dipermainkan, karena kesabaran itu ada batasnya. Tetap sabar, tapi tetaplah rasional.

LDR juga bisa melatih kesetiaan lho. Dengan adanya komitmen saat kami mendeklarasikan untuk memiliki hubungan spesial, kami sudah berjanji untuk bisa saling jujur. Jujur dalam hal apa saja. Meski letak kami jauh, cukuplah kasih kepercayaan pada pasangan kita. Jika nantinya si pacar menyalahgunakan kepercayaan yang udah dikasih. Cukup serahkan saja ama Allah. Karma itu pasti ada koq! Jangan khawatir…

Setidaknya yang telah saya lakukan saat ini adalah saling menjaga komunikasi.  SMS dengan jumlah yang sangat banyak malah bikin bosan. Usahakan SMS atau telpon dengan sekedarnya saja. Masing-masing dari kita pasti memiliki kesibukan sendiri-sendiri.

Dan yang paling penting dalam menjalani hubungan LDR itu adalah berusaha untuk menghindari konflik. Biasanya konflik terjadi karena menumpuknya rasa rindu, dicampur dengan kecurigaan-kecurigaan, serta menghilangnya pacar dari “inbox sms” kita. Sepatutnya, kalo kita pintar, rindu itu bisa dikelola koq. Harus bisa saling mengerti satu sama lain. Kalopun ada konflik, biarlah itu menjadi bumbu dalam hubungan LDR ini.

LDR itu punya taste sendiri koq dibandingkan yang gak LDR. Gregetnya itu lebih banyak. Yah, tapi pokoknya jangan sampe mendistorsi aktivitas kita sehari-hari.  Dan saya bersyukur menjalani hubungan seperti ini. Memberikan banyak pelajaran berharga. Semoga para LDR’ers berakhir bahagia yaaaak!

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 April 2012 in Uncategorized

 

Cerita PKL #1

Yah, akhirnya saya PKL di Rumah Sakit Jiwa Rajiman Wediodiningrat atau yang lebih dikenal dengan RSJ Lawang. Mendengar namanya saja sudah agak merinding. Kenapa? Ya karena saya teringat bahan becandaan saat mengenyam bangku sekolah. “Heh, ndang nang Lawang kunu!” (hei, cepetan ke lawang sana!). saat itu saya ga ngerti lawang itu apa dan dimana. Alhasil saya bertanya pada Ibu. Ibu menjawab lawang itu ada di Malang. Dan pikir saya saat itu, jika lawang adalah salah satu tempat wisata, lagipula yang saya ngerti selama ini kalo Malang ya banyak tempat wisatanya. Seiring dengan berjalannya waktu, baru tau kalo disana ada rumah sakit jiwanya. Rumah sakit jiwa kedua yang saya tahu setelah Menur *saya juga sudah ke Menur dan awesome banget* #abaikan

Balik lagi cerita mengenai PKL. Beda dengan PKL-PKL sebelumnya, PKL mata kuliah Psikologi Abnormal dengan tujuan RSJ Lawang ini diadakan pada saat weekend, sabtu kemarin,  17 Desember 2011. Jadi bisa dipastikan jika Ibu bertanya, “tumben berangkat pagi dek?” “Mau ke Lawang,” jawab saya. “Oh liburan yak?” ibu bertanya lagi dan saya pun menjawab “Iya Mam. Ke RSJ Lawang hehehe” Bukannya salah tingkah, ibu malah berpesan, “Jangan lupa banyakin kenalan disana!” dan respon saya, “Emooooh mam!!”

Dan kembali lagi ke cerita awal. Berangkat jam setengah 7 tet dari gerbang kampus. Hati ini ngerasa seneng banget, apa karena udah lama ga liburan ya? Atau karena ga sabar ketemu “kawan lama”? Hahaha, yang pasti perjalanan saya cukup mengasyikkan, meski didalam bis saya masi berkutat dengan PPDGJ (Pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa) dan berdiskusi dengan Nisa dan Lay mengenai Schizophrenia, Depresi, Siklotimik dan apapun itu. Hingga akhirnya, jam 10 tet nyampe juga disana.

Dan saya baru nyadar kalo RSJ Lawang itu berada di gang tepat seberang Bakpao Telo lho. Jadi mungkin setelah teman-teman berbelanja jajanan yang berbahan dasar telo (ubi) bisa langsung mampir ke tempat tersebut. Soalnya disana, pemandangannya indah banget, asri, sejuk. Pasti kalo yang ga tau menyangka tempat itu adalah “hunian” yang pas dan indah. Padahal,, Wkwkwk!

Pemandangan RSJ Lawang

Setelah turun dari bis. Alhasil, kami langsung diarak ke aula yang cukup besar. Beredar selentingan kabar mengejutkan, “Eh, ntar mahasiswanya dapat pasien satu-satu!” Wow, amazing!  Saya mah wajar-wajar saja. Yah bisa diliat dengan luas RSJ Lawang yang sebegitu gedenya, dan banyaknya bangunan disana, bisa dipastikan jika pasien RSJ Lawang akan lebih banyak dibandingkan mahasiswa PKL yang saat itu datang disana.

Tapi begitu masuk aula, bayangan-bayangan buruk mulai menghantui gara-gara kabar mengejutkan itu. Baru sejenak duduk di kursi saja, saya langsung mengajak salah satu teman saya untuk ke toilet. Ga lama setelah itu, balik ke toilet lagi -__-‘ *Inilah saya, kalo ngerasa tegang bisa bolak-balik pergi ke toilet*

Di aula mendengar sambutan dari salah satu kepala divisi Rumah Sakit yang disertai beberapa penjelasan mengenai rumah sakit ini. RSJ Lawang ini memang Rumah Sakit Jiwa tertua karena dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Iya sih, diliat dari bangunannya aja masih agak kuno-kuno gitu. Setelah itu, kami semua dibagi menjadi 4 kelompok besar. Saya masuk ke kelompok dua dengan tujuan bangsal Flamboyan yang isinya para pasien wanita dewasa dengan didampingi seorang psikolog yang bekerja disana.

Yah, pasien disini jauh lebih adaptif. Kenapa? Karena saya punya pengalaman sebelumnya di RSJ Menur, pasiennya lebih agresif, banyak yang nyolek-nyolek bahkan minta kenalan. *So, lebih asik di Menur kan :p*

Nah, waktunya tiba. Satu kelompok besar itu tadi dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jadinya, saya sekelompok sama Nisa, Lay, Amira dan Eris. Satu kelompok kecil itu tadi akan “diberi” satu pasien secara cuma-Cuma *loh*. Pasien kami namanya Mbak Yn, dia baru “datang” sekitar sebulan lalu. Ia merupakan “murid” pindahan dari Liponsos Keputih Surabaya. Pasien Yn ini cukup ramah lho, hampir semua mahasiswa yang berada di situ ia salami. Jabat tangannya pun erat sambil menyunggingkan senyum. Pasien berumur 29 tahun *ngakunya sih 3 tahun*. Menurut perawat yang bertugas disana, Yn menderita RM (Retardasi Mental) dengan GMO (Gangguan Mental Organik). Namun kami tidak mengetahui secara spesifik GMO-nya itu apa dan RM di level apa. Kami cukup melakukan observasi dan wawancara terhadap Yn *meskipun bisa dipastikan banyak ga nyambungnya* serta pada perawatnya. Sayangnya, kami kesulitan mendapatkan data asesmen lengkap yang telah dijalani Yn karena pihak RSJ yang kelihatannya keberatan untuk memberikannya.

Kurang lebih 45 menit, kami “bercengkrama” dengan kawan baru dan melengkapi data. Akhirnya kami diarak lagi ke aula.  Padahal jujur saya sangat ingin berjalan-jalan di lokasi yang luasnya ±5 hektare itu. Tapi ya ini semua karena keterbatasan waktu, kapan-kapan saya akan berkunjung lagi kesana, entah kapan 🙂

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi