RSS

Cerita PKL #1

31 Des

Yah, akhirnya saya PKL di Rumah Sakit Jiwa Rajiman Wediodiningrat atau yang lebih dikenal dengan RSJ Lawang. Mendengar namanya saja sudah agak merinding. Kenapa? Ya karena saya teringat bahan becandaan saat mengenyam bangku sekolah. “Heh, ndang nang Lawang kunu!” (hei, cepetan ke lawang sana!). saat itu saya ga ngerti lawang itu apa dan dimana. Alhasil saya bertanya pada Ibu. Ibu menjawab lawang itu ada di Malang. Dan pikir saya saat itu, jika lawang adalah salah satu tempat wisata, lagipula yang saya ngerti selama ini kalo Malang ya banyak tempat wisatanya. Seiring dengan berjalannya waktu, baru tau kalo disana ada rumah sakit jiwanya. Rumah sakit jiwa kedua yang saya tahu setelah Menur *saya juga sudah ke Menur dan awesome banget* #abaikan

Balik lagi cerita mengenai PKL. Beda dengan PKL-PKL sebelumnya, PKL mata kuliah Psikologi Abnormal dengan tujuan RSJ Lawang ini diadakan pada saat weekend, sabtu kemarin,  17 Desember 2011. Jadi bisa dipastikan jika Ibu bertanya, “tumben berangkat pagi dek?” “Mau ke Lawang,” jawab saya. “Oh liburan yak?” ibu bertanya lagi dan saya pun menjawab “Iya Mam. Ke RSJ Lawang hehehe” Bukannya salah tingkah, ibu malah berpesan, “Jangan lupa banyakin kenalan disana!” dan respon saya, “Emooooh mam!!”

Dan kembali lagi ke cerita awal. Berangkat jam setengah 7 tet dari gerbang kampus. Hati ini ngerasa seneng banget, apa karena udah lama ga liburan ya? Atau karena ga sabar ketemu “kawan lama”? Hahaha, yang pasti perjalanan saya cukup mengasyikkan, meski didalam bis saya masi berkutat dengan PPDGJ (Pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa) dan berdiskusi dengan Nisa dan Lay mengenai Schizophrenia, Depresi, Siklotimik dan apapun itu. Hingga akhirnya, jam 10 tet nyampe juga disana.

Dan saya baru nyadar kalo RSJ Lawang itu berada di gang tepat seberang Bakpao Telo lho. Jadi mungkin setelah teman-teman berbelanja jajanan yang berbahan dasar telo (ubi) bisa langsung mampir ke tempat tersebut. Soalnya disana, pemandangannya indah banget, asri, sejuk. Pasti kalo yang ga tau menyangka tempat itu adalah “hunian” yang pas dan indah. Padahal,, Wkwkwk!

Pemandangan RSJ Lawang

Setelah turun dari bis. Alhasil, kami langsung diarak ke aula yang cukup besar. Beredar selentingan kabar mengejutkan, “Eh, ntar mahasiswanya dapat pasien satu-satu!” Wow, amazing!  Saya mah wajar-wajar saja. Yah bisa diliat dengan luas RSJ Lawang yang sebegitu gedenya, dan banyaknya bangunan disana, bisa dipastikan jika pasien RSJ Lawang akan lebih banyak dibandingkan mahasiswa PKL yang saat itu datang disana.

Tapi begitu masuk aula, bayangan-bayangan buruk mulai menghantui gara-gara kabar mengejutkan itu. Baru sejenak duduk di kursi saja, saya langsung mengajak salah satu teman saya untuk ke toilet. Ga lama setelah itu, balik ke toilet lagi -__-‘ *Inilah saya, kalo ngerasa tegang bisa bolak-balik pergi ke toilet*

Di aula mendengar sambutan dari salah satu kepala divisi Rumah Sakit yang disertai beberapa penjelasan mengenai rumah sakit ini. RSJ Lawang ini memang Rumah Sakit Jiwa tertua karena dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Iya sih, diliat dari bangunannya aja masih agak kuno-kuno gitu. Setelah itu, kami semua dibagi menjadi 4 kelompok besar. Saya masuk ke kelompok dua dengan tujuan bangsal Flamboyan yang isinya para pasien wanita dewasa dengan didampingi seorang psikolog yang bekerja disana.

Yah, pasien disini jauh lebih adaptif. Kenapa? Karena saya punya pengalaman sebelumnya di RSJ Menur, pasiennya lebih agresif, banyak yang nyolek-nyolek bahkan minta kenalan. *So, lebih asik di Menur kan :p*

Nah, waktunya tiba. Satu kelompok besar itu tadi dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jadinya, saya sekelompok sama Nisa, Lay, Amira dan Eris. Satu kelompok kecil itu tadi akan “diberi” satu pasien secara cuma-Cuma *loh*. Pasien kami namanya Mbak Yn, dia baru “datang” sekitar sebulan lalu. Ia merupakan “murid” pindahan dari Liponsos Keputih Surabaya. Pasien Yn ini cukup ramah lho, hampir semua mahasiswa yang berada di situ ia salami. Jabat tangannya pun erat sambil menyunggingkan senyum. Pasien berumur 29 tahun *ngakunya sih 3 tahun*. Menurut perawat yang bertugas disana, Yn menderita RM (Retardasi Mental) dengan GMO (Gangguan Mental Organik). Namun kami tidak mengetahui secara spesifik GMO-nya itu apa dan RM di level apa. Kami cukup melakukan observasi dan wawancara terhadap Yn *meskipun bisa dipastikan banyak ga nyambungnya* serta pada perawatnya. Sayangnya, kami kesulitan mendapatkan data asesmen lengkap yang telah dijalani Yn karena pihak RSJ yang kelihatannya keberatan untuk memberikannya.

Kurang lebih 45 menit, kami “bercengkrama” dengan kawan baru dan melengkapi data. Akhirnya kami diarak lagi ke aula.  Padahal jujur saya sangat ingin berjalan-jalan di lokasi yang luasnya ±5 hektare itu. Tapi ya ini semua karena keterbatasan waktu, kapan-kapan saya akan berkunjung lagi kesana, entah kapan 🙂

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2011 in Cerita, Pengalaman, Psikologi

 

2 responses to “Cerita PKL #1

  1. AMYunus

    1 Januari 2012 at 00:50

    Eciyeeeeeh. Jadi udah kenalan sama siapa aja dek? ihiy

     
    • arialuqita

      2 Januari 2012 at 19:53

      Disana cuman kenal atu aja 😦 padahal pgn punya banyak kenalan #eh

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: