RSS

Andai saja saat itu tidak hujan…

24 Nov

Saat ini aku benci dengan hujan. Hujan yang deras. Yang tak bisa membuatku berkutik. Mengingatnya, sama saja seperti membasahi hatiku yang kini telah kering oleh cinta.

Namaku Rainy. Artinya hujan, bukan? Tapi semenjak dua tahun yang lalu aku telah membenci kata hujan, berhujan atau apalah itu, termasuk namaku sendiri. Ketika teman-temanku memanggil namaku, “Hai, Rainy. Si Hujan” seketika tanduk seakan tumbuh di kepalaku. Kenapa namaku seperti ini sih. Ah, sudahlah aku tidak akan mempermasalahkan namaku. Tapi, aku mempermasalahkan kenapa Tuhan menurunkan hujan tepat disaat dua tahun lalu ketika aku menunggu kedatangan seseorang.

Dia kupanggil mas kucel.  Kudapatkan nama itu dari teman-temannya yang juga temanku. Kami berbeda kampus, tapi kampus kami jaraknya cukup dekat. Meski begitu, kami masih belum bertemu secara langsung.

 “Ga kucel sih, cuman agak kurang menjaga penampilan aja, “  desisku dalam hati membela mas kucel, eh Dhio nama sebenarnya. Desisanku itu ternyata berpengaruh dengan raut mukaku yang agak manyun sedikit ketika temanku berbicara tentang dia, sang pujaan hatiku. “Ih, beneran kamu suka sama mas kucel, eh siapa itu Dhio. Baru juga kenal di Facebook 3 bulan yang lalu,” ujar temanku yang keheranan melihat sikapku yang merasa jatuh cinta saat komen pertama dia. Aku menyebutnya ini aneh, tapi siapa juga yang mau menduga arah datangnya cinta itu darimana. Namun yang pasti, aku mulai menyukainya!

Intens berhubungan hanya lewat dunia maya, sudah cukup bagi kami. Hingga suatu saat, “Minta nomer Hapemu donk rain ” “eh mas kucel minta nomer HP ku lhoooo!” Sontak kegirangan aku membaca message darinya. Bagai ketiban durian runtuh, tapi tak kunjung durian itu aku ambil. Hloh? Iya, kini sikap gengsiku yang mulai maju, “ntar aja dibalesnya, biarin dia penasaran!” pikirku saat itu.

Meski aku belum membalas message darinya, tapi dia masih cukup konsisten mengikuti perkembangan facebook-ku. Setiap kali aku update status, dan setiap kali itu pula dia memberikan komentar! Bisa dibilang, statusku hambar jika tak ada komentar darinya. Hingga hampir seminggu aku tidak membuka akun facebook-ku itu karena aku sedang menghadapi ujian. Mungkin dia juga, karena yang aku tahu jadwal ujian kampus kami selalu beriringan. Tak satupun notification dari dirinya. Aku mengeceknya satu persatu, membuka mata lebih lebar, takut ada baris-baris notification yang terlewatkan. Nihil! Iseng-iseng aku membuka chat ku di Facebook yang selama ini aku offline-kan. Yippi! Dia Online juga ternyata, pertanda jodoh? Huh, pertanyaan bodoh! Ragu dan malu ingin aku memulai chat dengannya. Setiap kali menulis, “Halo mas J “ Seketika itu pula aku hapus sebelum aku meng-enter­-nya. Rasa maluku masih lebih besar daripada perasaanku ternyata.

Lama menunggu. Dia tak kunjung menyapaku. Apa dia sudah lupa kalau sudah punya teman sepertiku? Ah, masa bodoh! Kusapa saja duluan, dengan terlebih dahulu membaca doa, aku mulai tuliskan “halo siang mas..” Semenit, Lima Menit, 15 Menit pun tidak ada respon darinya. Kesal! Kutuliskan lagi “Apa kabar? J “ Kusertakan emote senyum berharap dia membalas. Sepuluh menit menunggu dan menunggu lagi. Kuputuskan log-off sajalah. Setelah click log-off, dipojok  kiri bawah terlihat ada satu chat masuk. “Kabar baik koq. Kamu gimana? Oh ya, message-ku belum kamu bales tuh!” Ketika akan membalasnya. Sial!! Keburu akunku sudah log-off. Segera aku login kembali. Tapi ternyata sinyal wifi tidak terlalu bersahabat saat itu. Lemot! Dan yes, sudah masuk di home! Tapi… Si Mas Kucel sudah raib entah kemana. Nasib buruk! Oh ya, aku melupakan sesuatu. Aku klik tab Message. Kucari message darinya. Kubalas : “Maaf lama balasnya. Aku ga ngerti kalo ada message dari kamu mas. Ini nomerku 0867 84894 xx” Send!

Semenjak itu, aku menantikan ada nomer asing masuk ke ponselku, entah itu SMS atau sekedar miscall. Argggh! Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu memang kurang kerjaan, tapi menunggu nomer ponselmu hadir di ponselku adalah pekerjaan yang sangat aku tunggu…

Sehari. Tiga hari. Hopeless. Tepat hari ke-5, nomer asing mampir di ponselku. Miscalled. Kucoba miscall balik, berhenti sampai disitu. Padahal aku sudah mengharapkan itu nomer ponsel Mas kucel. Malamnya,” hai Rainy 😀 ini nomerku, Dhio! “ Ya ampun, lima hari aku menunggu untunglah tidak sia-sia! Kubalas sms itu, “Kiriman Pesan Gagal”. Walaaah, pulsa habis ternyata!-__-‘

Esoknya, ada kuliah pagi dan jam segitu yang aku tau masih belum ada kios pulsa yang buka. Segera kudatangi temanku yang lain memaksanya mengisikanku pulsa, “Uangnya besok!” seperti biasanya.

“Wah, halo juga mas. Hehe, kirain ga bakal SMS aku,” bunyi SMSku yang aku kirim pertama kali untuknya. Sejak saat itu, kami mulai saling berkomunikasi lebih private lagi Keranjinganku update status mulai aku tinggalkan. Hampir kira2 dua bulan, hubungan kami bertahan seperti itu. Benih-benih suka di hatiku sudah berubah menjadi rasa cinta. Entah di hatinya. SMS kami pun tidak nyerempet kearah sana, masih dalam batas antar teman.

“Eh, kamu abis ultah gitu ga traktir aku.”

“Yauda, kesini deh. Ntar aku traktir mas.”

“Siplah gampang!!”

Omongan ini terus menerus seperti ini terjadi tanpa ada perlakuan lebih lanjut. Janji-janji akan bertemu dengan dirinya semakin sering, tapi sesering itu juga mendekati hari-H dia selalu ada saja punya acara lain. “Rainy, hari ini ga ada acara kan? Aku uda bener2 free koq. Traktir skrg yah!” “Oke, aku tunggu dikampus jam 4 sore ini.”

Jarum jam masih menunjukkan angka 10. Enam jam lagi hari yang bersejarah buatku! Bertemu dengan pujaan hati yang selama ini hanya bisa disaksikan di “dunia lain”. Dan tiba-tiba, jam 1 siang hujan turun dengan derasnya. Begitu pula di kampus mas Kucel. “Ya Tuhan, moga ntar jam 4 hujannya udah reda” doaku dalam hati.

Semakin lama tetesan air hujan itu bukannya semakin rintik, namun bulir-bulirnya malah semakin deras dan menghujam cepat ke tanah. Kukirim sms, “jadi mas? Disini hujannya makin deres.” Balasan : “Iya, disini juga. Gmn donk?” Agak bingung juga memberi saran apa, ingin aku memaksanya untuk datang kesini dan melihatnya secara langsung, tapi disisi lain, kasihan dia jika harus menerobos hujan demi aku yang masih belum apa-apanya. Dan akhirnya, “Yaudah deh, kapan2 lagi aja. Kita atur waktu lagi.” Seketika dia menjawab, “okelah!”

Hari-hari berikutnya masih tetap hujan. Selama sebulan, hati ini dilanda gundah gulana. “Plis, ga usah hujan satu hari aja donk!” harapku pada Tuhan. Tapi mungkin Tuhan masih mem-pending permintaanku. Dan semakin hari pula intensitas SMS kami semakin berkurang. Tidak seramah dulu dan cenderung datar. Mungkin dia sibuk. Aku pun juga ikut “terbuai” dengan tugasku yang semakin banyak.

Lalu, “eh pinjem laptop donk. Udah lama ga buka facebook.” “Nih,” seketika aku menyambut sodoran laptop dari tangan temanku. “Pelan-pelan donk,”

Tulis Email. Tulis Password. Enter. Tunggu beberapa menit, langsung aku tuliskan namanya di kotak Search, “Dhio Pramono”. Ya Ampun foto profilnya berdua dengan seorang wanita. “Ah, mungkin aja adiknya,”batinku. Profil facebooknya terbuka dan iseng kuliat info akunnya, lalu status hubungannya “Berpacaran dengan … “ Belum sempat kulihat dengan siapa dia menjalin kasih, aku buru-buru beranjak pergi dari sana, berlari ke kamar mandi, bersedih disana. Astagaaa! Aku mengirimkan SMS padanya, “ciee, uda jadian nih J “ emote senyum yang sangat aku paksakan. “Hehe, iya!” balasnya. Sekejap airmataku meleleh, begitu pula hatiku yang juga merasakan gerimis kesedihan. Ah, andai saat itu tidak hujan! 😦

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2011 in Cerita, imajinasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: