RSS

99 Detik yang Berharga

05 Nov

Hari itu, seperti biasa harus melewati jalan itu untuk bisa sampai ke kampus tercinta. Bukan satu-satunya akses jalan buat ke kampus sih, tapi lebih pada efisiensi waktu. Dari jalan Indragiri lurus hingga ketemu Gelora Pancasila, berjalan agak memutar di depan Resto Kebun Kelapa. Setelah lampu merah lurus saja, hingga melewati tempat Karaoke Nav di sisi kiri. Hingga sampai di perempatan lampu merah lagi. Kalo ke kiri menuju arah Urip Sumoharjo dan Tunjungan, jika lurus saja menuju jalan Polisi Istimewa dan Sriwijaya. Dan di perempatan lampu merah inilah, cerita akan saya angkat!

 

Salah satu traffic light yang saya benci ya di daerah itu, selain traffic light yang ada di perempatan Ngagel, dekat Bilka swalayan. Kenapa? Karena, perubahan traffic lamp dari merah menjadi hijau begitu lamanya. Sekitar 120 detik (2 menit). Jadi bayangkan saja jika waktu sudah mepet untuk masuk kuliah dan saya harus menunggu lampu merah menjadi hijau, pasti sudah ketar-ketir rasanya.

 

Hari itu, saya masuk pagi. Kuliah pagi dimulai sekitar 07.30. Padahal 07.20 saya masih berada di perempatan lampu merah tersebut bersaing dengan aneka kendaraan yang terkumpul disana. “Alamat telat iki,” pikir saya dalam hati. Saat itu, saya berada di sisi kanan (padahal biasanya di sisi kiri) nyempil di sebelah mobil Alphard Hitam yang mengkilat, untungnya Motor Honda Supra X keluaran 2005 milik saya tidak kalah mengkilatnya, meski masih agak berdebu di sana sini. Hehehe :p

 

Tidak jauh dari pandangan saya, terlihat seorang loper koran sedang duduk di pinggir trotoar. “Wah, ini tukang loper Koran males banget sih jualin korannya, cuman duduk-duduk doank,” kata saya sinis. Sayup-sayup terdengar bapak-bapak pengendara motor memanggil si tukang loper Koran. “Woi, Koran!” Tak dinyana, sang loper Koran bangkit dan darah saya berdesir. “Astaghfirullah!” Begitu hina-dinanya saya, ber-suudzon dengannya, mengatakan dia males padahal untuk bangkit saja dia susah. Ia menghampiri pembeli korannya dan dengan tertatih, ia kembali ke tempatnya semula.

 

Lampu hijau hanya muncul 30 detik. Saya tidak sempat mengejar ketertinggalan lampu hijau. Akhirnya, saya kembali menunggu lampu. 99 detik lagi. Pandangan saya dengan loper Koran itu semakin dekat. Dengan cepat, saya buka dompet mengeluarkan uang 5ribuan. Menghampiri sang loper Koran, kasihan kalo dia yang menghampiri saya. Biarkan saya yang ngalah. “Pak, jawa pos satu!” pinta saya. “Ini mbak” seraya menyerahkan sebundel Koran dengan penuh senyum. Subhanallah, begitu ikhlasnya bapak ini.

“Berapa Pak?”

“Tiga Ribu Lima Ratus”

 

Dan saya pun menyerahkan uang lima ribuan yang telah saya siapkan, sebelum si bapak loper Koran mengambil uang kembalian saya ngomong, “Sudah Pak! Ambil saja kembaliannya!” perintah saya. Si Bapak bersikeras tetap ingin memberikan uang kembalian seraya berkata,

“Jangan lah mbak. Saya cuman butuh 3500 aja. Saya juga ga minta-minta koq mbak. Meski dengan keadaan saya kayak gini, selama saya bisa kerja dan kerjaannya halal akan saya lakukan.”

“Lho Pak. Saya ikhlas koq.”

“Saya yang ga ikhlas mbak”

Seketika hati ini luluh. Air mata tidak terasa meleleh juga. Pagi itu, saya basah dengan air mata. Perkataan bapak itu seakan membuat diri saya semakin sadar. Dengan kondisi normal seperti ini, saya masih saja merepotkan orang lain, sedangkan bapak itu dengan kondisi kaki yang terserang polio sehingga ia tidak bisa berjalan sempurna. Untuk melangkah saja terseok-seok, tapi ia mampu bertahan.

Lampu Hijau. Saya ingat kalo ada kuliah pagi.

“Makasih ya Pak!”

“Iya Mbak. Hati-hati!”

Dan kata terakhir dari bapak loper Koran itu semakin membuat trenyuh. Saya memang belum tau namanya. Saya baru kenal beberapa detik yang lalu. Tapi beliau sedemikian baiknya dengan saya. Sungguh, 99 detik yang berharga!

 

Mari kita renungi, ada dua pelajaran yang bisa didapat dari peristiwa ini :

Saya semakin menyadari untuk harus bisa melakukan segala halnya sendiri. Tidak perlu merepotkan orang lain. Selagi saya bisa. Selagi saya mampu. Lakukan sendiri!

Kembalikan yang bukan merupakan hak kita. Jujur, saya sedikit korupsi jika disuruh ibu saya, “Dek, belikan nasi goreng.” Harganya 7ribu rupiah. Ibu membawakan uang 10ribu rupiah. Uang kembalian 3ribu rupiah. Alhasil, jarang sekali uang kembalian itu saya antarkan bersama dengan nasi gorengnya. Yang paling sering saya lakukan adalah menaruhnya di dompet saya dan bilang itu sebagai uang lelah. Miris sekali kalo punya anak seperti saya! -__-‘

 

NB : sebenernya mau ngambil foto bapak loper korannya sekalian, sayang tdk ada kesempatan 😦

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2011 in Cerita, coretan, Pengalaman, Psikologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: