RSS

Lebaran Tanpa Thalitha

22 Des

Hari itu, tanggal 1 juni 2004, aku melahirkan buah hatiku yang kunanti-nanti selama 3 tahun usia perkawinanku. Seorang putri bernama Thalitha. Terlahir secara Caesar, sehingga aku tidak merasakan sakitnya mengejan saat melahirkan dirinya. Namun aku tetap bersyukur dikaruniai putri jelita seperti dirinya. Saat itu, kurasakan hidupku sangat indah. Dengan kehadiran Thalitha, keluargaku menjadi lebih sempurna.

Lebaran Pertama Thalitha ( Des Awal 2004 )

Umur 6 bulan, Thalitha merasakan nuansa lebaran pertamanya. Suasana lebaran yang begitu menyenangkan. Karena, akhirnya aku dan suami merasakan saat-saat bahagia dalam hidup kami. Aku tidak mudik saat itu, karena aku kasihan pada Thalitha yang masih bayi. Aku takut jika dia sakit ketika dalam perjalanan. Aku tidak ingin menyia-nyiakan anakku. Karena, aku sangat menyayanginya. Begitu pula suamiku.

Lebaran Kedua Thalitha ( Nov Akhir 2005 )

Tidak terasa, Thalitha sudah berumur setahun. Meski baru umur segitu, nekat saja aku dan suamiku mengajaknya mudik. Yah, saat itu adalah perjalanan pertama Thalitha yang terjauh, dari rumahku di Surabaya menuju kampung halamanku di Solo. Pertama kalinya, nenekku melihat sang cicit yang sungguh cantiknya dengan pipi yang bersemu merah. Kutimang ia kesana kemari, memperkenalkan anggota baru dalam keluargaku itu. Aku tahu, Thalitha ikut senang. Dilihat dari geliat kecilnya yang tidak merengek saat bersilaturahmi ke sanak keluarga disana.

Semua anggota keluargaku berebut ingin menimangnya. Mereka merasa gemas dengan tingkah laku anakku yang belum genap berumur dua tahun itu. Sekali lagi, aku bersyukur pada Tuhan memiliki putri kecil yang cantik jelita.

Lebaran Ketiga Thalitha (Nov Awal 2006 )

Sekarang Thalitha sudah bisa berjalan kemana kemari. Melompat dengan riang gembira bersama dengan sepupu-sepupunya. Agak waswas juga dia melakukan hal-hal seperti itu. Karena aku tak ingin terjadi apa-apa dengan putri kecilku itu.

Lebaran Keempat Thalitha ( Okt Akhir 2007 )

Sudah agak besar sekarang Thalitha. Dia pun terlihat sangat pandai dan penurut. Mulutnya menceracau terus menirukan kata-kata yang sekilas ada di iklan televisi. “Cerewet sekali dia,” pikirku saat itu. Melihat bakatnya itu, aku pun mengajarinya bernyanyi. Ia sangat riang ketika aku melakukan hal tersebut. Kini, ia tak hanya pintar menyanyi, tapi juga menari. “Ah, aku ingin kamu jadi penari balet saja sayang.“ Gerakanmu lincah gemulai dengan kaki-kaki indah yang melompat-lompat di segala sudut rumahku.

Lebaran Kelima Thalitha ( Okt Awal 2008 )

Kepandaian Thalitha semakin membuatku tersenyum bangga. Aku dan suami pun memutuskan untuk mengajaknya bersekolah. Kupilihkan playgroup dekat rumah agar aku tetap bisa memantaunya. Aku ingin apa yang terbaik untukku. Hari-hari pertama ia bersekolah, ia sudah membuat ulah. Ckckckck, Thalitha anakku… Mengajak teman sebangkunya bercerita. Ia bisa bercerita panjang lebar meski dengan ucapan khas anak balita yang sedikit cadel. Aku semakin gemas dibuatnya.

Sampai dirumah, ia pun tetap saja bercerita. Kadang ia juga bercerita sendiri. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk memberikan seorang teman. “Yah, kita buat adik untuk Thalitha. Kasihan dia sendirian, “ saranku kepada suami untuk menambah anak lagi. Tidak lama, akhirnya aku positif hamil.

Lebaran Keenam Thalitha ( Sept Akhir 2009 )

Lebaran kali ini, ada yang berbeda. Thalitha punya seorang adik. Ia resmi menjadi kakak dari putraku yang bernama Razaan. Meski agak manyun, namun Thalitha bersedia menerima kehadiran adiknya. Melihat wajah kecil Razaan tidak berbeda ketika melihat wajah kecil Thalitha dulu. Kebahagiaanku semakin bertambah.

Lebaran ketujuh tanpa Thalitha ( Sept Awal 2010 )

Tepat 100 hari kematianmu, Thalitha. Air mataku ini belum kering. Lebaran tahun ini kurasakan sangat berbeda tanpa kehadiranmu lagi Aku sering mengenangmu. Menimang-nimang boneka kesayanganmu. Meniciumi pakaian yang sering kau kenakan. Aku sudah cukup rela. Meski hati ini masih saja sedih ketika mengingat bahwa dirimu telah tiada. Thalitha positif terkena infeksi paru-paru akut. Entah karena apa, aku pun juga tidak tahu.

Aku dan suami setia mendampinginya selama sebulan lebih dirumah sakit. Tak gentar, aku memanjatkan doa kepada Tuhan dan mencari jalan untuk kesembuhanmu. Tapi, apa daya. Akhirnya kau hembuskan nafas terakhirmu tepat 3 hari sebelum ulang tahunmu yang ke-6. Aku sangat kehilangan Thalitha. Begitu pula suamiku dan Razaan. Kini hanya ada Razaan disampingku yang akan aku rawat selama nafasku ini berhembus. Karena, aku tak ingin kehilangan buah hatiku lagi.

Berderai-derai air mata menyertai kepergianmu. Semoga kamu bahagia di Sana, ya Nak. Ya Allah, aku titipkan buah hatiku yang hanya 6 tahun berada disisiku. Semoga ia tenang di alam sana, di tempat yang abadi. Suatu saat nanti, Ibu akan menyusulmu.

NB : Cerita ini kuabadikan sebagai kenangan pada Keponakanku Tersayang, Thalitha Evelina Jufiyanti. I’ll miss you honey!

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Desember 2010 in Cerita

 

6 responses to “Lebaran Tanpa Thalitha

  1. AMYunus

    22 Desember 2010 at 16:32

    loh? kok? 😯
    um, cerita ini ngambil sudut pandang ibunya Thalitha? ❓
    inikah cerpen yang pernah kau maksudkan, dek?

     
    • arialuqita

      23 Desember 2010 at 19:17

      apa maksudnya dgn pernyataan : “loh?kok?”

      ya lebih mudah kalo diambil dari sudut pandang ibunya Thalitha…

      yah, betul skali. ingatan pakdhe masih tajam ternyata :p

       
      • AMYunus

        24 Desember 2010 at 23:21

        haha. pak dhe juga masih ingat nama lengkap kamu dek :=p (ninja)

         
      • arialuqita

        25 Desember 2010 at 15:31

        huwahhh,,, bener2 deh ini pakde tokcer ingetannya! (LOL)

         
  2. AMYunus

    6 Januari 2011 at 15:25

    mau disebutin di sini dek nama lengkapnya? *bikin perkara. (y) :mrgreen:

     
    • arialuqita

      26 Januari 2011 at 21:58

      hedeeeeh, sebutin aja pakdhe.. sebutin.. biar tau smua org deh .. haha B-)

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: