RSS

Hebatnya sebuah Sugesti

22 Okt

Pernah mendengar  kata Sugesti gak?I Sugesti berasal dari kata suggestion yang artinya saran. Namun, dalam artian bahasa Indonesia, sugesti bisa berarti saran terhadap diri sendiri. Biasanya, sugesti dikaitkan dengan self-talk, pembicaraan terhadap diri sendiri sebagai suatu usaha untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi sesuatu. Sugesti ada yang bersifat positif maupun negatif, tergantung bagaimana kita men-sugesti-kan diri kita sendiri.

Manfaat dari sugesti sendiri bisa digunakan untuk mengobati phobia. Keinginan yang kuat dari seorang paranoid ( contoh fobia ) bisa dihilangkan asal dia mampu menciptakan suasana dengan sugestinya itu agar keadaan di sekelilingnya tidak membuatnya ketakutan. Pada orang yang takut ular juga, awal penyembuhannya adalah dengan memberikan sebuah sugesti bahwa ular adalah binatang yang tidak berbahaya. Selanjutnya, sugesti yang kuat akan menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk mendekati hewan melata tersebut, lalu kemudian membuktikan bahwa sugestinya itu benar dengan menyentuhnya. Dan voila! Tidak terjadi apa-apa bukan?? Itulah hebatnya sugesti.

Sugesti bisa juga dijadikan motivasi seseorang dalam meraih apapun yang mereka inginkan. Contohnya aja, saya sebagai seorang mahasiswa. Banyak sekali sugesti dalam diri saya. Karena, saya yakin sugesti bila dijalankan dengan benar dan untuk kepentingan yang baik niscaya akan mendatangkan hasil yang baik pula.  Salah satu sugesti yang biasa saya pergunakan ialah “ Saya pasti bisa “. Sugesti itulah yang nantinya akan membuat saya termotivasi mengusahakan segalanya.

Selain bermanfaat baik, Sugesti bisa juga malah membuat krisis kepercayadiriaan pada diri seseorang. Jika seseorang sudah stag dalam keadaan putus asa, pikirannya akan mulai berkecamuk menyenandungkan kata-kata yang membuat dirinya semakin menjadi drop. “Ah, gimana aku bisa. Teman-temanku aja ga bisa,” hal inilah yang menciptakan mental rapuh pada diri seseorang. Kalah sebelum berperang dengan kata sadisnya, yaitu pengecut.

Maka sebaiknya, mulai saat ini kita mulai mengembangkan sugesti dalam diri, karena bisa menyemangati diri kita untuk menghadapi segala halangan rintangan. So, mulailah ber-sugesti! Yang baik tentunya…

Iklan
 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Oktober 2010 in Uncategorized

 

12 responses to “Hebatnya sebuah Sugesti

  1. AMYunus

    22 Oktober 2010 at 15:48

    Tetap semangat! daaaan. tentunya sugesti positif dong saat energi negatif melanda diri 🙂

     
  2. arialuqita

    22 Oktober 2010 at 16:02

    yeah! i’d try, uncle… hahaha

     
  3. AMYunus

    24 Oktober 2010 at 22:54

    sip (gym)

     
  4. Johnny Wirjosandjojo

    22 Desember 2010 at 00:11

    Salam kenal. Sugesti bisa jadi alat yang menakutkan.

     
    • arialuqita

      22 Desember 2010 at 13:41

      oh ya? knp bisa begitu?

      mari kita sharing 🙂

       
      • Johnny Wirjosandjojo

        22 Desember 2010 at 14:44

        hehe, Insya Allah habis liburan. Sore ini saya harus pulang ke kampung.

         
      • arialuqita

        23 Desember 2010 at 19:18

        oh, oke. baik. akan saya tunggu 🙂

         
  5. Johnny Wirjosandjojo

    4 Januari 2011 at 13:04

    Definisi “menakutkan” yang saya maksud kiranya berbeda dengan apa yang mbak Tata pikirkan.

    Simpel saja, kita sering kali punya dua topeng (baca: muka—>saya pakai gaya Putu Wijaya). Contohnya berperilaku alim setiap waktu bertemu orang lain. Dengan begitu kita mengirimkan sugesti (atau kesan?) secara perlahan kepada orang lain bahwa kita adalah seperti yang mereke lihat, dengar, dan rasakan. Itu menakutkan. Mungkin film Dr. Jekyll (saya lupa namanya) and Mr. Hyde contoh’a.

    Contah lain yang lebih “jreng” mungkin begini: (saya malah bingung sendiri, damn..he)
    Saya dulu sering memainkan orang dengan sugesti (dalam kasus ini sebenarnya lebih tepat menggunakan “memberikan kesan”) yang bertingkat sehingga “korban” jadi bingung dan hingga kini banyak teman saya menganggap berkepribadian ganda sekaligus misterius, mereka tenggelam dalam sugesti yang saya lepaskan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

    Hmm, contoh kecil:

    Selagi di SMA, saya punya reputasi sebagai lelaki yang anti-perempuan, bahkan hampir seluruh angkatan mengenal saya sebagai seorang h*m*. Kenyataannya tentu saja saya bukan h*m*, tapi jika ditanyakan apakah saya benci perempuan, itu betul 100%. Saya mengalami banyak sakit hati dari beberapa perempuan. Kedua teman dekat saya juga mengalami pengalaman yang buruk dengan kaum hawa.

    Selain itu saya bosan mendengar kabar bahwa teman-teman saya mengejar-ngejar perempuan, bertindak bodoh dengan merendahkan diri di hadapan perempuan yang mereka suka. Itu sangat memalukan. Seharusnya para lelaki sadar bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk lelaki. Itu tandanya laki-laki dan perempuan letaknya sejajar. Perempuan tidak diciptakan dari kepala laki-laki, untuk berada di atas laki-laki dan mempermainkan mereka sesuka hati.

    Saya juga bosan mendengar obrolan teman-teman yang selalu berkisar-kisar pada perempuan. All the time. I hate all the d*mn conversation. Apa tidak ada hal lain di dunia yang perlu diurus selain urusan cinta dan selangkangan?! Tidakkah mereka bisa sedikit cool dalam menangani urusan cinta?! Saya tahu cinta tidak datang sesuka manusia, dia datang tiba-tiba, dan saya juga tahu bagaimana rasanya jatuh cinta untuk kali pertama, akal sehat tidak akan banyak punya tempat kalau dalam posisi ini. Namun, karena saya adalah laki-laki termuda di angkatan 2008 di SMA saya dan dengan begitu sudah jelas bahwa seharusnya mereka sudah lebih dewasa dibanding saya. Kenyataannya tidak.

    Saya benci melihat laki-laki yang memilih membantu perempuan dan mengacuhkan laki-laki lain yang membutuhkan pertolongan. Mereka benar-benar terperangkap seperti wortel (ini joke yang dilontarkan tokoh Hans Landa dalam film Inglarious Basterds (atau film lain—>saya lupa).

    Dan lagi karena kebanyakan perempuan di SMA saya termasuk kategori suka mempermainkan laki-laki dan merasa berada di atas laki-laki, saya kemudian berusaha membangun sebuah persaudaraan antar-lelaki untuk kembali mengangkat martabat laki-laki yang anjlok (ini menurut saya). Lantas langkah sederhana yang saya tempuh adalah selalu berusaha mendiskreditkan perempuan dalam joke di manapun, dan kapan pun, tapi tidak memakai kata-kata yang buruk seperti f*ck, d*mb*ass, as*hole dan sebagainya. Misalnya begini:

    (1) Saya selalu berusaha mengatakan ini kepada setiap laki-laki di SMA: “kiamat akan datang jika jumlah perempuan lebih banyak dari kaum laki-laki, jadi bila kamu besok menikah, harus punya anak laki-laki” —

    (2) Jika ada perempuan tertawa berlebihan dan bertingkah menyebalkan, maka saya akan berkata begini: “lihat tuh, seperti itulah tingkah perempuan jaman sekarang, oleh karena itu aku tak mau punya istri dan anak perempuan, menyusahkan hidup” —

    (3) Jika siswa laki-laki di kelas mendapatkan nilai tertinggi dalam ulangan, saya akan berteriak: “Hidup laki-laki!” —

    Saya mulai mendapatkan sedikit perhatian dan dukungan, tapi karena saya selalu bermuka serius setiap kali melontarkan joke (karena saya benar-benar tahan untuk tidak tertawa), akhirnya itu jadi senjata mata tuan. Semua orang menganggap saya benar-benar h*m* dan freak, kecuali yang tidak percaya tentunya. Beberapa orang malah mengira saya termasuk anggota Arus Pelangi (komunitas homo di Purwokerto). Saya kalah dalam pertarungan saya sendiri.

    Semua joke yang menurut perspektif saya adalah nasehat, justru dipandang sebagai keeksisan saya sebagai h*m*. Semua orang mungkin memang betul-betul bodoh dalam mencerna joke saya. Tapi nampaknya saya yang salah langkah (baca: kebablasan) karena mengira semua orang paham apa pesan yang ingin saya sampaikan, mengerti akan alam pemikiran saya, padahal isi dan level otak tiap-tiap orang ‘kan berbeda-beda. Itu yang saya lupakan.

    Itulah bahaya’a kalau salah dalam menampilkan sugesti. Jadi sekarang di STAN saya lebih banyak diam di kelas. Tidak berbicara sama-sekali sehingga tidak banyak teman saya. Diam itu emas sabda Kanjeng Nabi Muhammad saw. Saya pegang itu dan lebih suka berbicara di dunia maya.

    Mungkin mbak Tata yang manis menganggap saya sedikit gila. Tak apa. Setidaknya berani terbuka kepada orang lain (yang bahkan belum saya kenal secara lengkap) itu berharga (menurut saya). Toh jika saya menceritakan semua riwayat saya dari dulu sampai sekarang, saya masih punya “nanti”.

    Demikian mbak. Tuntas janji saya. Lunas. Wslm

     
    • arialuqita

      6 Januari 2011 at 00:57

      Bolehkah kalo hal ini dibicarakan tertutup saja?
      saya tdk mau hal ini menjadi konsumsi publik. akan saya jawab di email kamu ya mas setyo 🙂

       
      • Johnny Wirjosandjojo

        7 Januari 2011 at 14:02

        Tertutup? Pengertian sekali, oke nanti saya cek di e-mail…Terimaksih mbak Tata…

         
    • AMYunus

      6 Januari 2011 at 15:23

      wah, ya ini mah sugesti yang tidak sempurna. makanya (maaf) fail. btw masa’ 100% persen benci perempuan mas? ngeri tenan. tapi kalo emang bener benci 100% kok komen di blognya perempuan ya? 🙄

      yawes. moga dengan jawaban dari ponakanku calon psikolog ini bisa membantu. hehe. amin.

       
      • Johnny Wirjosandjojo

        7 Januari 2011 at 14:09

        Itu cerita lama. Ya 100 % untuk perempuan produk sekarang. Tentu sekarang sudah turun kadarnya. Tapi sekarang hati saya malah membatu…saya kira saya punya penyakit hati. Entahlah, tida ada alasan. Kadang juga saya mengatakan semua itu pada orang yang bahkan tidak saya kenal hanya karena saya ingin. Ya, no reason. Itu juga nampaknya juga satu masalah yang lain tentu. Namun, saya sendiri tidak yakin itu perlu selesaikan mas.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: